Penyuluh Kristen KUA Medan Sunggal Tanamkan Nilai Kesetaraan dan Kasih dalam Bimluh Korban NAPZA

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Kristen Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Sunggal, Sindar Purba, S.Th., M.Pd., didampingi Penyuluh Agama Kristen KUA Medan Perjuangan, Drammes Lumbantobing, S.Th., M.Pd.K., melaksanakan bimbingan dan penyuluhan (Bimluh) bagi pasien korban NAPZA di Pusat Rehabilitasi Kiki Alam Jaya, Jalan Seroja Raya, Kelurahan Tanjung Selamat, Kota Medan, Selasa (11/8/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Apa Bedanya dengan Mereka, Kita Juga Bisa” yang bertujuan menumbuhkan semangat, rasa percaya diri, serta keyakinan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah dan meraih masa depan yang lebih baik.

Kegiatan diawali secara interaktif melalui sesi kidung pujian dengan menyanyikan lagu-lagu gereja bersama para pasien. Suasana yang semula terasa serius perlahan menjadi lebih cair dan penuh keakraban. Kidung pujian tersebut menghadirkan keteduhan hati sekaligus membangun atmosfer positif bagi para pasien. Melalui nyanyian rohani, para peserta diajak untuk membuka hati, melepaskan beban pikiran, serta menyadari bahwa mereka tidak menjalani proses pemulihan seorang diri.

Memasuki agenda utama, Sindar Purba menyampaikan bimbingan rohani dengan berlandaskan firman Tuhan melalui tema “Apa Bedanya dengan Mereka, Kita Juga Bisa”. Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa setiap manusia memiliki nilai dan harga diri di hadapan Tuhan, tanpa memandang kelemahan fisik, mental, maupun latar belakang kehidupannya. Landasan firman Tuhan diambil dari Mazmur 139:14: “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” Firman tersebut menjadi penguatan bahwa setiap pribadi diciptakan secara unik dan memiliki potensi untuk bangkit serta menjalani kehidupan dengan penuh harapan.
“Jangan pernah merasa bahwa diri kita lebih rendah dibandingkan orang lain. Tuhan menciptakan setiap manusia dengan keunikan dan tujuan. Karena itu, jangan berhenti berharap dan jangan menyerah pada keadaan. Dengan pertolongan Tuhan, setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Sindar Purba. Ia juga mengajak para pasien untuk membangun penerimaan diri, menjaga semangat, serta menjadikan proses rehabilitasi sebagai momentum untuk memperbaiki kehidupan dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Selanjutnya, Drammes Lumbantobing memberikan motivasi kepada seluruh pasien korban NAPZA agar tidak larut dalam keputusasaan dan tetap optimis menatap masa depan bersama Tuhan. Dengan penyampaian yang komunikatif dan penuh energi, ia mengajak para pasien untuk berani meninggalkan masa lalu, membangun kembali kepercayaan diri, serta memiliki tekad kuat untuk menjalani proses pemulihan. “Ayo kita semangat. Jangan biarkan keputusasaan menguasai diri kita. Tetap optimis dan percaya bahwa bersama Tuhan selalu ada jalan untuk bangkit dan menatap masa depan yang lebih baik,” ungkap Drammes Lumbantobing.

Kegiatan Bimluh tersebut menjadi sarana penguatan iman dan motivasi bagi para pasien korban NAPZA dalam menjalani proses rehabilitasi. Melalui nilai kasih, kesetaraan, penerimaan diri, dan pengharapan kepada Tuhan, para pasien diajak menyadari bahwa mereka tetap berharga dan memiliki kesempatan untuk berubah. Kegiatan ini sekaligus menegaskan peran penyuluh agama dalam memberikan pendampingan rohani yang mampu membangkitkan semangat, daya juang, dan optimisme para pasien untuk meninggalkan ketergantungan serta membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *