Medan (Humas) — Pelayanan keagamaan yang hadir di tengah masyarakat terus diperkuat Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas. Tidak hanya berfokus pada pelayanan administrasi keagamaan, KUA juga mendorong para Penyuluh Agama Islam untuk hadir memberikan pendampingan spiritual kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk mereka yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan keagamaan yang humanis, menyentuh kebutuhan masyarakat, dan memberikan penguatan lahir maupun batin.
Komitmen tersebut sejalan dengan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar memberikan pelayanan dan bimbingan yang prima serta berdampak nyata di tengah-tengah masyarakat. Menurutnya, keberadaan KUA harus dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam berbagai kondisi kehidupan, termasuk ketika menghadapi ujian berupa sakit. “Pelayanan keagamaan harus hadir menyentuh kebutuhan masyarakat. Para penyuluh diharapkan tidak hanya memberikan bimbingan di tempat-tempat ibadah, tetapi juga hadir ketika masyarakat membutuhkan penguatan spiritual, termasuk kepada pasien dan keluarga yang sedang menghadapi ujian sakit,” ujarnya.
Menindaklanjuti arahan tersebut, pada Selasa (18/8/2026), Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., H. Harun Arrasyid, Lc., dan Nurbaiti Lubis melaksanakan kegiatan Bimbingan Rohani (Bimroh) di Rumah Sakit Mitra Sejati. Tim Bimroh menyambangi pasien yang berada di ruang Intensive Care Unit (ICU) lantai 2 dan lantai 3 serta memberikan pendampingan secara langsung kepada pasien maupun keluarga yang mendampingi. Kegiatan berlangsung dengan penuh empati dan kepedulian sebagai bentuk kehadiran pelayanan keagamaan di tengah situasi yang membutuhkan ketenangan dan keteguhan hati.
Dalam kunjungan tersebut, para penyuluh mendatangi ruang-ruang pasien dan menyampaikan penguatan keagamaan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Selain memberikan motivasi kepada pasien, penyuluh juga menyapa dan berdialog dengan keluarga yang mendampingi selama proses perawatan. Kehadiran tersebut diharapkan dapat memberikan suasana yang lebih tenang sekaligus menguatkan keluarga agar tetap sabar dalam mendampingi anggota keluarga yang sedang menjalani pengobatan.
Kepada keluarga pasien, para penyuluh mengingatkan pentingnya memberikan dukungan moral dan spiritual selama masa perawatan. Keluarga diharapkan terus memberikan semangat kepada pasien agar tetap berikhtiar memperoleh kesembuhan, mengikuti proses pengobatan dengan baik, serta tidak berhenti memanjatkan doa kepada Allah Ta’ālā. Dukungan keluarga dinilai memiliki arti penting dalam membantu pasien menjaga semangat dan optimisme ketika menghadapi kondisi kesehatan yang tidak mudah.
“Dalam menghadapi sakit, ikhtiar dan doa harus berjalan bersama. Pengobatan merupakan bagian dari usaha yang perlu dijalani dengan sungguh-sungguh, sementara hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah Ta’ālā dengan penuh tawakkal,” pesan para penyuluh kepada pasien dan keluarga. Mereka juga mengajak keluarga untuk terus memberikan kata-kata yang menenangkan dan menguatkan agar pasien tidak merasa sendiri dalam menghadapi proses perawatan.
Kepada para pasien, tim Bimroh menyampaikan pentingnya memperbanyak kesabaran dalam menjalani ujian sakit. Kesabaran diharapkan menjadi kekuatan batin agar pasien mampu menjalani proses perawatan dengan lebih tenang dan penuh keyakinan, sementara tawakkal menjadi sikap untuk menyerahkan hasil setelah seluruh ikhtiar dilakukan. Dengan sikap tersebut, pasien diharapkan mampu mengelola kecemasan dan tetap memiliki harapan terhadap kesembuhan.
Para penyuluh juga mengingatkan pasien agar senantiasa berbaik sangka atau husnuzan kepada Allah Ta’ālā. Dalam kondisi sakit sekalipun, seorang mukmin hendaknya tetap meyakini bahwa setiap ketetapan Allah memiliki hikmah, meskipun hikmah tersebut belum tentu dapat dipahami pada saat itu. Keyakinan tersebut diharapkan menjadi sumber ketenangan sekaligus menjaga hati agar tidak mudah larut dalam keputusasaan.
Selain memberikan penguatan mental dan spiritual, tim Bimroh turut mengingatkan pentingnya menjaga kewajiban ibadah sesuai kemampuan pasien. Para penyuluh menjelaskan bahwa sakit bukan alasan untuk meninggalkan salat, karena Islam memberikan berbagai kemudahan dalam pelaksanaan ibadah bagi orang yang mengalami keterbatasan fisik. Bimbingan tersebut disampaikan dengan mempertimbangkan kondisi pasien agar kewajiban agama tetap dapat dilaksanakan tanpa mengabaikan aspek kesehatan dan ketentuan medis.
Bagi pasien yang berada dalam kondisi tertentu dan tidak diperbolehkan terkena air, para penyuluh memberikan penjelasan mengenai tayammum sebagai salah satu bentuk kemudahan dalam bersuci. Dengan memahami adanya rukhsah atau keringanan dalam syariat, pasien diharapkan tidak merasa terbebani dalam menjalankan ibadah selama masa perawatan. Bimbingan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa ajaran Islam memberikan perhatian terhadap kondisi dan kemampuan setiap umat dalam menjalankan kewajiban.
Kegiatan Bimroh berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kepedulian. Dialog antara penyuluh, pasien, dan keluarga tidak hanya menjadi sarana menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk memberikan motivasi dan menghadirkan rasa bahwa pasien serta keluarganya tidak menghadapi ujian tersebut sendirian. Kehadiran Penyuluh Agama Islam di lingkungan rumah sakit menjadi bagian dari pelayanan yang mengedepankan pendekatan humanis dan penguatan nilai-nilai keagamaan.
Di penghujung kunjungan, seluruh rangkaian Bimroh ditutup dengan doa bersama. Para penyuluh memohon kepada Allah Ta’ālā agar seluruh pasien diberikan kesembuhan yang sempurna, diangkat segala penyakitnya, diberikan kekuatan dan kesabaran, serta dimudahkan seluruh urusan dunia dan akhirat. Doa juga dipanjatkan bagi keluarga pasien agar senantiasa diberikan ketabahan, keikhlasan, dan kekuatan dalam mendampingi anggota keluarga selama menjalani proses perawatan.
Melalui kegiatan Bimroh di Rumah Sakit Mitra Sejati tersebut, KUA Kecamatan Medan Amplas kembali menunjukkan bahwa pelayanan keagamaan dapat hadir di berbagai ruang kehidupan masyarakat. Pendampingan spiritual kepada pasien menjadi wujud pelayanan yang humanis sekaligus memperkuat peran Penyuluh Agama Islam sebagai ujung tombak pembinaan umat dalam memberikan ketenangan, motivasi, dan penguatan iman. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari ikhtiar KUA Kecamatan Medan Amplas untuk mewujudkan pelayanan dan bimbingan yang prima, menyentuh kebutuhan masyarakat, serta memberikan dampak nyata bagi umat.

