Medan (Humas) — Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., terus mengarahkan seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) untuk menghadirkan pelayanan serta bimbingan keagamaan yang prima dan memberikan dampak nyata di tengah masyarakat. Arahan tersebut diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan keagamaan yang dilaksanakan secara rutin di berbagai majelis taklim, dengan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan dinamika kehidupan masyarakat. Salah satunya dilaksanakan di Majelis Taklim (MT) As-Sa’adah pada Rabu (19/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., menyampaikan materi akidah dengan mengangkat tema “Iman Anugerah Terbesar bagi Orang yang Hidup: Jangan Dirusak dengan Mitos, Khurafat, Tahayul dan Pesimisme”. Kajian tersebut diarahkan untuk membangun kesadaran jamaah agar senantiasa menjaga iman sebagai fondasi utama dalam menjalani kehidupan. Kegiatan dihadiri pengurus majelis taklim, H. Waizul Qarni, bersama puluhan jamaah dan masyarakat sekitar yang mengikuti kajian dengan penuh perhatian.
Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, mengatakan bahwa pembinaan akidah merupakan bagian penting dalam pelayanan keagamaan karena menyentuh langsung fondasi kehidupan seorang muslim. Menurutnya, penyuluhan agama tidak cukup hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi harus mampu membantu masyarakat menghadapi berbagai persoalan keyakinan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. “Kita ingin penyuluhan agama benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat. Penguatan akidah harus terus dilakukan agar umat memiliki landasan yang kuat dalam menyikapi berbagai informasi, tradisi, maupun kepercayaan yang berkembang,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Dr. Syarto menjelaskan bahwa iman merupakan salah satu anugerah terbesar yang diberikan Allah Ta’ālā kepada manusia. Dengan iman, seseorang memiliki orientasi kehidupan yang jelas, mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, serta memiliki sandaran spiritual ketika menghadapi berbagai persoalan. Karena itu, iman tidak cukup hanya diyakini dalam hati, tetapi harus senantiasa dijaga dari berbagai hal yang dapat mengotori dan melemahkannya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kajian tersebut adalah keyakinan terhadap mitos, khurafat, dan tahayul yang tidak memiliki landasan yang benar dalam ajaran Islam. Jamaah diajak membangun cara pandang yang berlandaskan tauhid dengan tidak mudah mengaitkan berbagai peristiwa kehidupan dengan pertanda-pertanda mistis. Setiap kejadian hendaknya disikapi dengan ilmu, akal sehat, dan keyakinan bahwa segala sesuatu berada dalam pengetahuan serta ketentuan Allah Ta’ālā.
Tidak Semua Kegagalan Merupakan Pertanda Kesialan
Kajian juga membahas sikap pesimistis yang dapat muncul ketika seseorang terlalu mudah menghubungkan kegagalan, musibah, atau kejadian tertentu dengan hari, tempat, benda, angka, maupun peristiwa yang dianggap membawa kesialan. Menurut Dr. Syarto, seorang muslim tetap dituntut melakukan ikhtiar dengan memperhatikan sebab dan akibat secara rasional, tetapi tidak boleh meyakini bahwa suatu sebab memiliki kekuatan mutlak di luar kehendak Allah Ta’ālā. Dengan demikian, usaha manusia tetap harus berjalan bersama dengan tawakal kepada Allah.
“Iman harus melahirkan keberanian dan optimisme. Ketika seseorang menjadikan mitos sebagai dasar mengambil keputusan, pada saat yang sama ia berpotensi kehilangan kekuatan tawakal kepada Allah Ta’ālā,” pesan Dr. Syarto dalam kajian tersebut. Ia mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berputus asa, terlebih mengaitkannya dengan keyakinan tertentu yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa Islam tidak mengajarkan umatnya untuk meninggalkan usaha ketika menghadapi persoalan. Seorang muslim justru diperintahkan untuk berikhtiar secara maksimal, menggunakan ilmu dan pertimbangan yang benar, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ālā. Sikap tersebut menjadi bentuk keseimbangan antara usaha, doa, dan tawakal sekaligus menjaga seorang muslim dari sikap pesimistis maupun keyakinan yang menyimpang.
Penyuluhan Keagamaan Berbasis Kebutuhan Masyarakat
Kegiatan di MT As-Sa’adah menjadi bagian dari upaya KUA Kecamatan Medan Amplas menghadirkan bimbingan keagamaan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga menjawab persoalan keyakinan yang masih ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Para jamaah diarahkan untuk menjadikan ilmu agama sebagai filter dalam menyikapi berbagai informasi, tradisi, dan kepercayaan yang berkembang di lingkungan sekitar. Dengan pemahaman agama yang baik, masyarakat diharapkan semakin mampu memilah antara ajaran agama, ikhtiar yang dibenarkan, tradisi sosial, dan keyakinan yang tidak memiliki dasar syariat.
Kepala KUA Medan Amplas menegaskan bahwa Penyuluh Agama Islam memiliki peran penting dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat secara berkelanjutan. Kehadiran penyuluh di majelis taklim menjadi ruang untuk membangun dialog, menjawab persoalan keagamaan, sekaligus memperkuat pemahaman umat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi atau keyakinan yang bertentangan dengan prinsip tauhid. “Pembinaan seperti ini harus terus dilakukan secara berkesinambungan. Masyarakat membutuhkan pendampingan agar semakin kokoh dalam akidah, memiliki pemahaman agama yang baik, dan mampu menghadapi kehidupan dengan optimisme,” ungkapnya.
Melalui kajian tersebut, jamaah juga diajak untuk membangun sikap hidup yang lebih positif dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi ujian. Keimanan yang kuat diharapkan melahirkan keyakinan bahwa setiap persoalan memiliki jalan keluar selama manusia terus berusaha, berdoa, dan berserah diri kepada Allah Ta’ālā. Dengan demikian, penguatan akidah tidak hanya berdampak pada aspek keyakinan, tetapi juga membentuk karakter masyarakat yang optimistis, tangguh, dan memiliki keteguhan dalam menghadapi berbagai keadaan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan salat Isya berjamaah. Kebersamaan tersebut menjadi bagian dari penguatan ukhuwah sekaligus mempererat hubungan antara Penyuluh Agama Islam dengan jamaah dan masyarakat sekitar. Melalui kegiatan pembinaan yang dilaksanakan secara rutin, KUA Kecamatan Medan Amplas terus memperkuat komitmennya menghadirkan pelayanan keagamaan yang dekat dengan masyarakat, memperkokoh akidah, serta membangun umat yang berilmu, optimistis, dan kokoh dalam bertauhid.

