Bimluh KUA Medan Amplas di Radio Aqila FM: Musibah Bukan Akhir, tetapi Jalan Menuju Kebaikan

Medan (Humas) — Musibah tidak selalu berarti kehilangan, kesulitan, ataupun berakhirnya sebuah harapan. Dalam perspektif Alquran, setiap peristiwa yang dialami manusia dapat menjadi ujian untuk mengukur keteguhan iman, peringatan agar melakukan introspeksi, sekaligus momentum untuk memperbaiki diri. Pesan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) KUA Kecamatan Medan Amplas melalui Radio Aqila FM, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada jajaran Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) untuk terus menghadirkan pelayanan dan bimbingan keagamaan yang prima, komunikatif, edukatif, serta memberikan dampak nyata di tengah masyarakat. Pemanfaatan media radio menjadi salah satu upaya memperluas jangkauan penyuluhan agar pesan-pesan keagamaan dapat diterima oleh masyarakat melalui ruang komunikasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mengangkat tema “Musibah dalam Perspektif Alquran: Ujian, Peringatan dan Jalan Menuju Kebaikan”, materi Bimluh diarahkan untuk membangun cara pandang masyarakat yang lebih proporsional ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Masyarakat diajak memahami bahwa kesulitan tidak selalu harus dimaknai sebagai bentuk hukuman atau tanda bahwa seseorang sedang dijauhkan dari Allah SWT. Sebaliknya, musibah dapat menjadi ruang bagi seorang Muslim untuk memperkuat kesabaran, melakukan evaluasi diri, meningkatkan ikhtiar, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam pembahasan, dijelaskan bahwa manusia sering kali mengukur keberhasilan dan kegagalan hanya berdasarkan kondisi material yang sedang dialami. Ketika memperoleh kelapangan, seseorang terkadang menganggap dirinya sedang dimuliakan, sementara ketika berada dalam kesempitan ia dapat merasa sedang direndahkan. Cara pandang tersebut dikoreksi Alquran melalui QS. Al-Fajr ayat 15–16 yang mengingatkan bahwa banyak atau sedikitnya kenikmatan dunia bukanlah ukuran mutlak kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT.

Perspektif tersebut semakin ditegaskan melalui QS. Al-Anbiya ayat 35 yang menyatakan bahwa setiap manusia akan mengalami ujian melalui berbagai keadaan kehidupan. Menariknya, ujian tersebut tidak hanya berupa keburukan dan kesulitan, tetapi juga kebaikan dan kenikmatan. Dengan demikian, kesehatan, kekayaan, jabatan, keberhasilan, serta berbagai bentuk kelapangan juga merupakan ujian yang menuntut manusia untuk bersyukur dan mempertanggungjawabkan nikmat yang diterimanya.

“Jangan sampai kita hanya menganggap ujian itu ketika sedang susah. Ketika kita mendapatkan kesehatan, rezeki yang luas, pekerjaan, jabatan, maupun keberhasilan, semuanya juga merupakan ujian. Yang dinilai bukan semata-mata keadaan yang kita terima, tetapi bagaimana kita menyikapi keadaan tersebut sesuai dengan tuntunan Allah SWT,” jelas penyuluh dalam pemaparannya.

Pembahasan kemudian dikaitkan dengan QS. Al-A’raf ayat 168 yang menggambarkan dinamika kehidupan manusia dengan berbagai kondisi yang dialami. Setiap peristiwa dapat menjadi ruang pembelajaran agar manusia kembali mengevaluasi diri dan memperbaiki apa yang masih kurang. Karena itu, ketika musibah datang, seorang Muslim tidak cukup hanya bertanya, “Mengapa ini terjadi kepada saya?”, tetapi juga perlu bertanya, “Apa yang harus saya perbaiki setelah peristiwa ini?”

Pertanyaan tersebut dapat membuka ruang bagi lahirnya muhasabah, kesabaran, ikhtiar, dan tawakal. Musibah yang pada awalnya terasa berat dapat menjadi titik balik bagi seseorang untuk membangun keteguhan, meningkatkan kepedulian kepada sesama, dan semakin menyadari pentingnya bergantung kepada Allah SWT. Dengan cara pandang tersebut, sebuah kesulitan tidak berhenti sebagai pengalaman yang menyakitkan, tetapi dapat memberikan nilai pendidikan spiritual bagi kehidupan seseorang.

“Ketika musibah datang, jangan berhenti pada kesedihan dan pertanyaan mengapa. Kita perlu mengambil pelajaran dari apa yang terjadi. Bisa jadi melalui musibah tersebut Allah SWT sedang mengajarkan kesabaran, mengingatkan kita untuk memperbaiki diri, atau membuka jalan agar kita menjadi pribadi yang lebih dekat kepada-Nya,” ungkapnya.

Materi Bimluh juga mengingatkan bahwa keimanan tidak menjadikan seseorang terbebas dari berbagai ujian kehidupan. QS. Al-‘Ankabut ayat 2 menegaskan bahwa pengakuan seseorang sebagai orang beriman akan diuji untuk melihat sejauh mana keyakinan tersebut benar-benar tertanam dalam kehidupannya. Karena itu, datangnya ujian tidak selalu dapat dipahami sebagai tanda bahwa seseorang jauh dari Allah SWT.

Hal terpenting adalah bagaimana seorang Muslim memberikan respons terhadap ujian yang dihadapinya. Sikap yang dibangun bukanlah pasrah tanpa usaha, melainkan menggabungkan kesabaran, ikhtiar, doa, dan tawakal. Seorang Muslim tetap dituntut mencari solusi atas persoalan yang dihadapi, sembari menyadari bahwa hasil akhir berada dalam ketentuan Allah SWT.

Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, mengatakan bahwa materi penyuluhan harus mampu memberikan penguatan kepada masyarakat ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Menurutnya, masyarakat membutuhkan pemahaman agama yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dapat menjadi pedoman dalam menghadapi kondisi nyata. “Penyuluhan agama harus hadir ketika masyarakat membutuhkan penguatan. Melalui pemahaman Alquran yang baik, kita ingin masyarakat memiliki cara pandang yang lebih kuat ketika menghadapi ujian, tidak mudah berputus asa, tetapi tetap berikhtiar dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT,” ujarnya.

Pemanfaatan Radio Aqila FM sebagai ruang pelaksanaan Bimluh menjadi bagian dari upaya KUA Medan Amplas mengembangkan pola pembinaan keagamaan melalui berbagai media yang dekat dengan masyarakat. Dakwah tidak hanya dilakukan melalui pertemuan tatap muka, tetapi juga dikembangkan melalui media komunikasi publik sehingga pesan keagamaan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Pendekatan tersebut menjadi penting seiring semakin beragamnya persoalan yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

H. Muhammad Lukman Hakim menambahkan bahwa perkembangan teknologi dan media komunikasi harus dapat dimanfaatkan sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai positif dan edukasi keagamaan. “Kita ingin para penyuluh mampu melihat perkembangan zaman sebagai peluang untuk memperluas jangkauan dakwah. Selama pesan yang disampaikan benar, edukatif, dan memberikan manfaat, maka berbagai media dapat kita manfaatkan untuk menghadirkan pembinaan keagamaan kepada masyarakat,” tambahnya.

Melalui Bimluh tersebut, masyarakat diajak untuk tidak berhenti pada kesedihan ketika menghadapi musibah, tetapi berusaha menemukan nilai pendidikan dan hikmah di balik setiap peristiwa. Musibah mungkin tidak selalu dapat dihindari, namun cara seorang Muslim memaknai dan meresponsnya dapat menentukan apakah peristiwa tersebut menjadi sumber keputusasaan atau justru menjadi jalan menuju kedewasaan iman dan kebaikan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen KUA Kecamatan Medan Amplas dalam menghadirkan pelayanan dan bimbingan keagamaan yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Melalui penyuluhan yang dilakukan secara berkelanjutan dan memanfaatkan berbagai media, KUA Medan Amplas mendorong masyarakat agar tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga mampu menjadikan nilai-nilai Alquran sebagai pedoman dalam menghadapi setiap keadaan kehidupan dengan sabar, ikhtiar, doa, dan tawakal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *