Jangan Menunda Kebaikan, Penyuluh KUA Medan Sunggal Kupas Hadis Lima Perkara Sebelum Lima Perkara

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Sunggal, Paidi, S.Ag, menyampaikan bimbingan dan penyuluhan agama di Serikat Tolong-Menolong (STM) Nurul Muslimin yang dilaksanakan di Masjid Nurul Muslimin, Jalan Tuasan No. 78, Kota Medan, Kamis (18/06/2026). Kegiatan ini diikuti oleh para anggota STM dan jamaah setempat dengan penuh antusias. Dalam kesempatan tersebut, Paidi mengangkat tema tentang pentingnya memanfaatkan kesempatan hidup melalui hadis Rasulullah SAW yang sangat populer, yaitu “Lima perkara sebelum lima perkara.”

Dalam pemaparannya, Paidi menjelaskan bahwa hadis tersebut merupakan nasihat Rasulullah SAW agar umat Islam tidak menunda-nunda kebaikan. Menurutnya, manusia sering kali merasa memiliki waktu yang panjang sehingga lalai dalam mempersiapkan bekal kehidupan dunia dan akhirat. Padahal, berbagai nikmat yang dimiliki saat ini dapat berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, setiap kesempatan yang Allah berikan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk beribadah, beramal saleh, dan melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat.

Paidi kemudian menguraikan poin pertama dan kedua dari hadis tersebut, yaitu masa muda sebelum tua dan sehat sebelum sakit. Ia mengajak jamaah untuk menjadikan masa muda sebagai periode yang produktif karena pada masa itu fisik masih kuat dan semangat masih tinggi. Demikian pula kesehatan merupakan nikmat besar yang sering terlupakan. “Gunakan masa muda untuk berkarya, menuntut ilmu, dan beribadah. Jangan menunggu tua karena kekuatan fisik tidak akan selamanya bersama kita. Begitu juga kesehatan, manfaatkan sebelum datang sakit yang dapat membatasi aktivitas kita,” ujar Paidi.

Selanjutnya, Paidi menjelaskan tentang kaya sebelum miskin dan masa luang sebelum sibuk. Menurutnya, harta yang dimiliki hendaknya digunakan untuk membantu sesama, bersedekah, dan mendukung berbagai kegiatan kebaikan. Ia juga mengingatkan agar waktu luang tidak dihabiskan untuk hal yang sia-sia, melainkan dimanfaatkan untuk menambah ilmu, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan kualitas ibadah. “Ketika Allah memberikan kelapangan rezeki dan waktu, itulah saat terbaik untuk memperbanyak amal. Jangan menunggu sampai kesempatan itu hilang, karena belum tentu akan kembali,” katanya.

Pada bagian akhir penyuluhan, Paidi menekankan poin terakhir yaitu hidup sebelum mati. Ia mengingatkan bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara dan setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah SWT. Karena itu, setiap hari yang dijalani hendaknya menjadi kesempatan untuk menambah bekal kebaikan. “Selama hayat masih dikandung badan, pintu taubat dan amal saleh masih terbuka. Maka jangan menunda kebaikan, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan menjemput,” tuturnya.

Melalui penyuluhan ini, Paidi mengajak seluruh jamaah STM Nurul Muslimin untuk menjadikan hadis “Lima perkara sebelum lima perkara” sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Masa muda, kesehatan, kekayaan, waktu luang, dan kehidupan merupakan nikmat yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya sebelum datang masa tua, sakit, kemiskinan, kesibukan, dan kematian. Dengan memanfaatkan setiap kesempatan untuk beramal dan beribadah, seorang muslim akan lebih siap menghadapi kehidupan dunia maupun akhirat.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *