Kemenag Medan Perkuat Kompetensi Penghulu melalui Kajian Kitab Kifayatul Akhyar

Medan (Humas) – Kementerian Agama Kota Medan terus mendorong peningkatan kompetensi penghulu melalui penguatan keilmuan, pendalaman literatur fikih, dan diskusi keagamaan secara berkelanjutan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Bahtsul Masail yang digelar di Masjid Ikhwanul Ikhlas Kemenag Kota Medan, Senin (12/10/2026). Kegiatan ini menjadi wadah bagi para penghulu untuk memperdalam khazanah keilmuan Islam sekaligus memperkuat landasan pengetahuan dalam menjalankan tugas pelayanan keagamaan kepada masyarakat.

Bahtsul Masail kali ini menghadirkan Rifai Idris, S.HI., Penghulu KUA Kecamatan Medan Helvetia, sebagai narasumber dengan materi kajian Kitab Kifayatul Akhyar karya Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al Husaini Al Hisni Al Dimasqy Asy-Syafi’i. Kitab tersebut merupakan salah satu rujukan fikih dalam tradisi Mazhab Syafi’i yang memuat pembahasan berbagai persoalan hukum Islam. Melalui kajian ini, para penghulu diajak untuk menelaah materi secara mendalam, memperkaya pemahaman, serta membangun tradisi diskusi ilmiah dalam menyikapi persoalan keagamaan.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Medan, Dr. H. Impun Siregar, MA, Kasi Bimas Islam H. Ahmad Kamil Hrp., MA, Ketua APRI Kota Medan Drs. H. Ahmat Yani Siregar, MA, Sekretaris APRI H. Ramlan, S.Ag., MA, serta seluruh penghulu se-Kota Medan. Kehadiran jajaran pimpinan dan organisasi profesi penghulu tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas kepenghuluan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Medan H. Impun Siregar menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi penghulu harus dilakukan secara konsisten melalui pembelajaran, pendalaman ilmu, dan pertukaran pemikiran. Menurutnya, penghulu memiliki peran strategis dalam memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat sehingga dituntut untuk terus memperbarui wawasan dan memperkuat pemahaman terhadap ajaran Islam.

“Saya berharap kegiatan Bahtsul Masail ini menjadi ruang bagi para penghulu untuk terus memperdalam ilmu, memperluas wawasan, dan meningkatkan kompetensi. Penghulu tidak hanya dituntut mampu melaksanakan tugas secara administratif, tetapi juga harus memiliki landasan keilmuan yang kuat, integritas, dan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Impun Siregar.

Ia menambahkan, penguatan kompetensi profesi perlu menjadi perhatian bersama agar penghulu mampu menjalankan tugas secara profesional dan cermat. Menurutnya, forum kajian seperti Bahtsul Masail dapat dimanfaatkan untuk membangun budaya belajar sekaligus memperkuat sinergi di lingkungan Kemenag Kota Medan. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi juga menjadi bekal dalam meningkatkan mutu pelayanan keagamaan.

Sementara itu, narasumber Rifai Idris menjelaskan bahwa kajian Kitab Kifayatul Akhyar memberikan kesempatan kepada para penghulu untuk menelaah kembali dasar-dasar fikih melalui pembacaan literatur klasik. Pembahasan dilakukan sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan keagamaan dan meningkatkan ketelitian dalam memahami berbagai persoalan yang berkaitan dengan hukum Islam.

“Kajian kitab fikih seperti Kifayatul Akhyar penting untuk memperluas wawasan keagamaan dan melatih ketelitian dalam memahami persoalan. Melalui pembelajaran dan diskusi bersama, para penghulu dapat memperdalam pemahaman terhadap materi yang dikaji sehingga ilmu tersebut menjadi bekal dalam menjalankan tugas secara bertanggung jawab,” jelas Rifai Idris.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan semangat belajar yang berkelanjutan di kalangan penghulu. Menurutnya, pendalaman literatur fikih perlu disertai dengan sikap terbuka terhadap diskusi, ketelitian dalam memahami dalil, serta kemampuan menempatkan pengetahuan sesuai dengan persoalan yang dibahas. Dengan demikian, kegiatan Bahtsul Masail tidak hanya menjadi sarana menambah pengetahuan, tetapi juga membangun kebiasaan berdiskusi secara ilmiah dan bertanggung jawab.

Pelaksanaan Bahtsul Masail juga menjadi ruang penguatan sinergi antara Kemenag Kota Medan, Seksi Bimas Islam, dan Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Kota Medan. Melalui keterlibatan unsur pimpinan, organisasi profesi, dan seluruh penghulu, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong pengembangan kompetensi secara bersama-sama. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarpenghulu menjadi salah satu langkah penting dalam memperkaya perspektif serta mendukung pelaksanaan tugas yang sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan masyarakat.

Kemenag Kota Medan berharap kegiatan kajian kitab dapat terus menjadi bagian dari pembinaan profesi penghulu secara berkesinambungan. Penguatan pemahaman terhadap literatur fikih, peningkatan ketelitian, serta pengembangan budaya diskusi ilmiah diharapkan dapat mendukung pelayanan keagamaan yang profesional, berintegritas, dan bertanggung jawab. Melalui upaya tersebut, Kemenag Kota Medan berkomitmen mendorong para penghulu untuk terus meningkatkan kapasitas diri demi memberikan pelayanan yang semakin berkualitas dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *