Medan (Humas) – Upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai Islam yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari terus dilakukan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas. Sesuai arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., seluruh penyuluh agama, penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) didorong untuk aktif memberikan pelayanan dan pembinaan yang prima, solutif, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sebagai implementasi dari komitmen tersebut, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (BIMLUH) rutin di Majelis Taklim Nurul Iman, Jalan Garu I, Kelurahan Harjosari I, Senin (15/6/2026). Pada kesempatan tersebut, ia menyampaikan materi bertema “Menjaga Keberkahan Rezeki dalam Kehidupan Sehari-hari” yang diikuti oleh pengurus majelis taklim dan puluhan jamaah dengan penuh antusias.
Dalam muqaddimah tausiyahnya, Dr. Syarto menegaskan bahwa setiap manusia memerlukan rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun dalam pandangan Islam, tujuan seorang muslim bukan sekadar mencari banyaknya harta, melainkan menghadirkan keberkahan dalam setiap rezeki yang diperoleh.
“Banyaknya harta belum tentu menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, rezeki yang diberkahi Allāh Ta’ālā akan membawa manfaat, ketenteraman, dan kebaikan bagi pemiliknya serta orang-orang di sekitarnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa keberkahan atau barakah berarti bertambahnya kebaikan, keberlangsungan manfaat, serta hadirnya nilai-nilai positif yang dianugerahkan Allah SWT dalam kehidupan seseorang. Karena itu, setiap muslim tidak hanya dituntut untuk bekerja dan mencari nafkah, tetapi juga menjaga agar rezeki yang diperoleh tetap berada dalam koridor yang diridhai Allah.
Dalam kajiannya, Dr. Syarto memaparkan delapan langkah penting untuk menjaga keberkahan rezeki dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, meyakini bahwa Allah Ta’ālā adalah satu-satunya pemberi rezeki yang hakiki (Ar-Razzāq). Keyakinan ini akan melahirkan sikap tawadhu dan menghindarkan seseorang dari ketergantungan berlebihan kepada makhluk.
Kedua, mencari rezeki yang halal dan diperoleh melalui cara-cara yang benar sesuai syariat Islam. Menurutnya, keberkahan tidak akan hadir dari penghasilan yang diperoleh melalui kecurangan, penipuan, maupun pelanggaran hukum agama.
Ketiga, menjunjung tinggi kejujuran dalam bermuamalah. Kejujuran merupakan salah satu kunci utama yang mendatangkan keberkahan dalam aktivitas ekonomi dan hubungan sosial.
Keempat, menjauhi praktik riba yang secara tegas dilarang dalam Islam karena dapat menghilangkan keberkahan harta dan merusak tatanan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.
Kelima, memperbanyak sedekah dan menunaikan zakat. Ia menegaskan bahwa mengeluarkan sebagian harta di jalan Allah bukanlah mengurangi kekayaan, tetapi justru menjadi sebab bertambahnya keberkahan dan kebaikan.
“Harta yang dikeluarkan untuk zakat dan sedekah tidak akan mengurangi rezeki. Justru melalui itulah Allah membuka pintu-pintu keberkahan yang sering kali tidak kita duga,” jelasnya.
Keenam, senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah Ta’ālā. Sikap syukur akan membuka jalan bagi bertambahnya nikmat sebagaimana dijanjikan Allah dalam Al-Qur’an.
Ketujuh, menjaga dan mempererat silaturahmi. Menurutnya, hubungan baik dengan keluarga, kerabat, dan sesama muslim merupakan salah satu sebab dilapangkannya rezeki dan diberkahinya umur seseorang.
Kedelapan, bertawakal kepada Allah setelah melakukan ikhtiar secara maksimal. Tawakal menjadi bentuk penghambaan dan keyakinan bahwa hasil akhir setiap usaha berada dalam ketentuan Allah Ta’ālā.
“Keberkahan rezeki tidak hanya diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi dari sejauh mana harta tersebut membawa manfaat, ketenangan, dan mendekatkan seseorang kepada Allāh Ta’ālā,” tegasnya.
Kegiatan BIMLUH berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Para jamaah mengikuti materi dengan serius serta aktif dalam sesi tanya jawab. Beberapa peserta turut berbagi pengalaman dan mengajukan pertanyaan seputar tantangan menjaga keberkahan rezeki dalam kehidupan ekonomi keluarga di tengah berbagai dinamika zaman.
Setelah sesi diskusi, kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan agar Allah SWT senantiasa menganugerahkan rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan kepada seluruh jamaah. Rangkaian kegiatan kemudian diakhiri dengan pelaksanaan salat Isya berjamaah.
Melalui pembinaan yang berkesinambungan ini, KUA Kecamatan Medan Amplas berharap masyarakat semakin memahami bahwa ukuran keberhasilan hidup bukan semata-mata banyaknya harta yang dimiliki, tetapi juga keberkahan yang menyertainya. Dengan demikian, diharapkan terwujud kehidupan yang lebih tenang, harmonis, dan senantiasa berada dalam ridha Allah Ta’ālā.

