Lima Kunci Ibadah, Pesan Dakwah Penyuluh KUA Medan Sunggal untuk Jamaah Masjid Al-Ikhlas

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., menjadi khatib sekaligus imam salat Jumat di Masjid Al-Ikhlas yang berada di kawasan Kodam Lama, Jalan Sei Mencirim, Sunggal, Jumat (4/9/2026). Dalam khutbahnya, Paidi menyampaikan pesan dakwah tentang lima kunci agar ibadah diterima Allah SWT. Salat Jumat turut dihadiri Ketua BKM Masjid Al-Ikhlas Ade Sukardi, Bendahara Suparliadi, tokoh agama Kliwon, serta jamaah masjid.

Pelaksanaan salat Jumat berlangsung dengan tenang dan khusyuk. Para jamaah tampak fokus menyimak materi khutbah yang disampaikan Paidi. Ia mengawali pesannya dengan menjelaskan bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Menurutnya, orang yang melakukan kejahatan dapat memperoleh balasan atas perbuatannya. “Kalau seseorang berbuat jahat, wajar jika mendapat balasan atas kejahatannya. Misalnya mencuri, ketika tertangkap tentu ada konsekuensi hukum yang harus dijalani, bahkan bisa berakhir di rumah tahanan,” ujar Paidi.

Namun, Paidi mengingatkan bahwa berbuat baik saja belum tentu menjamin seseorang memperoleh balasan kebaikan jika ibadah tersebut tidak dilakukan dengan benar dan sesuai tuntunan. Ia mencontohkan orang yang melaksanakan salat, tetapi masih lalai dan memiliki sifat riya. “Orang yang melaksanakan salat merupakan orang yang baik, tetapi belum tentu orang yang rajin salat otomatis masuk surga apabila salatnya dilakukan dengan lalai dan riya,” ungkapnya. Paidi kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma’un ayat 5–7 yang memberikan peringatan kepada orang-orang yang lalai dalam salat dan berbuat riya.

Selanjutnya, Paidi menjelaskan lima kunci ibadah yang perlu diperhatikan agar amal ibadah memiliki dasar yang benar dan diterima Allah SWT. Pertama, beriman kepada Allah SWT sebagai landasan utama seluruh ibadah. Kedua, niat yang ikhlas karena Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pujian atau pengakuan manusia. Ketiga, terpenuhinya seluruh syarat dan rukun ibadah sesuai ketentuan syariat. Keempat, memiliki dalil dari Al-Qur’an maupun hadis yang menjadi dasar perintah pelaksanaan ibadah. Kelima, menjauhi kesyirikan, termasuk tidak mendatangi dukun atau meminta pertolongan kepada selain Allah SWT.

“Lima kunci ini harus menjadi perhatian kita dalam beribadah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan hanya terlihat baik secara lahiriah, tetapi tidak memiliki keikhlasan, tidak sesuai syarat dan rukun, tidak memiliki dasar dalil, atau bahkan bercampur dengan perbuatan syirik,” tegas Paidi di hadapan jamaah. Ia mengajak jamaah untuk terus memperbaiki kualitas ibadah, menjaga keikhlasan, serta memastikan setiap amal dilakukan sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunah.

Paidi menekankan bahwa ibadah bukan hanya tentang banyaknya amal yang dilakukan, tetapi juga tentang kualitas, keikhlasan, dan kesesuaiannya dengan tuntunan agama. Lima kunci tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam agar senantiasa memperkuat iman, meluruskan niat, memenuhi syarat dan rukun ibadah, berpegang pada dalil, serta menjauhi segala bentuk kesyirikan. Setelah khutbah selesai, pelaksanaan salat Jumat dilanjutkan dan diimami langsung oleh Paidi. Kegiatan berlangsung tertib, aman, dan khusyuk hingga selesai.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *