Medan (Humas) – Dalam upaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan warga binaan, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Sunggal, Drs. H. Fuji, M.A., melaksanakan pembinaan keagamaan kepada warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Tanjung Gusta Medan, Senin (26/10/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid At-Taubah yang berada di dalam kawasan Rutan Kelas I Tanjung Gusta, Jalan Lembaga Pemasyarakatan No. 12, Tanjung Gusta, Medan. Adapun tema yang disampaikan dalam kegiatan pembinaan tersebut adalah “Menghadirkan Allah dalam Diri Kita”.
Dalam ceramahnya, Fuji mengajak warga binaan untuk senantiasa menghadirkan Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan dengan meyakini bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan manusia. Menurutnya, kesadaran bahwa setiap tindakan berada dalam pengawasan Allah akan mendorong seseorang untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhi perbuatan yang dilarang agama. “Di mana pun kita berada, yakinlah bahwa Allah SWT selalu mengawasi kita. Apa pun yang kita kerjakan tidak luput dari penglihatan Allah, karena Allah tidak pernah tidur dan tidak pernah lalai terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini,” ujar Fuji.
Lebih lanjut, Fuji menjelaskan bahwa salah satu cara menghadirkan Allah dalam diri adalah dengan meningkatkan kualitas ibadah, khususnya salat. Ia mengingatkan warga binaan agar melaksanakan salat dengan penuh kesadaran, kekhusyukan, dan keyakinan bahwa Allah SWT senantiasa melihat hamba-Nya. Selain itu, ia mengajak warga binaan untuk membiasakan diri membaca Al-Qur’an, memahami serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari, dan senantiasa berselawat kepada Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT sekaligus membentuk kepribadian yang lebih baik.
Fuji juga menyampaikan beberapa langkah untuk menghadirkan Allah dalam hati, di antaranya mempelajari Asmaul Husna agar semakin mengenal nama dan sifat-sifat Allah SWT serta merenungkan kebesaran-Nya melalui ciptaan-Nya. Selanjutnya, membangun kesadaran muraqabah, yaitu perasaan bahwa setiap saat manusia berada dalam pengawasan Allah. “Ketika kita memiliki kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi, kita akan lebih berhati-hati dalam bertindak, menjaga perkataan, dan berusaha menjauhi segala bentuk kemaksiatan,” jelasnya.
Selain itu, Fuji mengajak warga binaan untuk membiasakan zikir dan doa dalam setiap kesempatan, tidak hanya setelah melaksanakan salat, tetapi juga ketika dalam perjalanan, berada di atas kendaraan, maupun di sela-sela kesibukan. Ia juga menekankan pentingnya meluruskan niat dalam setiap aktivitas dengan mengawalinya melalui bacaan basmalah serta meniatkan setiap pekerjaan sebagai bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT. Dengan demikian, nilai-nilai agama diharapkan tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi kepada penyuluh agama Islam yang terus istiqamah memberikan pendampingan keagamaan kepada warga binaan Rutan Kelas I Tanjung Gusta Medan. Menurutnya, kehadiran penyuluh agama sangat penting untuk membantu warga binaan memperdalam pemahaman agama, memperkuat keimanan, serta menumbuhkan semangat memperbaiki diri. “Kami sangat mengapresiasi para penyuluh agama Islam yang tetap istiqamah memberikan pembinaan kepada warga binaan. Mereka membutuhkan pendampingan dan penguatan spiritual agar memiliki bekal keagamaan yang baik ketika nantinya kembali ke tengah keluarga dan masyarakat,” ujar Agus Salim.
Melalui kegiatan pembinaan ini, diharapkan warga binaan semakin menyadari pentingnya mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbaiki perilaku, serta menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Kesimpulannya, menghadirkan Allah dalam diri bukan hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui kesadaran bahwa setiap tindakan harus dilandasi keimanan, keikhlasan, dan tanggung jawab. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, warga binaan diharapkan mampu menjadikan masa pembinaan sebagai momentum untuk bertobat, memperbaiki diri, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik saat kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.(Paidi).

