Medan (Humas) — Penyuluh Agama Buddha Kantor Kementerian Agama Kota Medan mengikuti kegiatan Road Show Lokakarya Borobudur yang diselenggarakan dalam rangkaian Vesākha Sānanda 2570 Buddhist Era, bertempat di Gedung Prasadha Jinadhammo Mahathera (PJM), Kabupaten Deli Serdang, Jumat-Minggu (8–10/5/2026).
Keikutsertaan penyuluh agama Buddha tersebut berdasarkan Surat Tugas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara Nomor 431/Kw.02/10/BA.01.2/04/2026 tentang penugasan mengikuti Road Show Lokakarya Borobudur.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Surat Edaran Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Nomor 106 Tahun 2026 tentang Vesākha Sānanda 2570 Buddhist Era, yang bertujuan memperkuat penghayatan nilai-nilai spiritual Buddhis melalui pemaknaan kembali Borobudur sebagai sumber inspirasi kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta mengikuti berbagai sesi lokakarya, dialog, refleksi spiritual, serta penguatan pemahaman mengenai nilai-nilai Buddhis yang terkandung dalam relief dan filosofi Borobudur. Kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran bersama dalam memperkuat wawasan keagamaan yang moderat, inklusif, dan kontekstual.
Penyuluh Agama Buddha Kota Medan mengikuti kegiatan dengan antusias sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan kompetensi dalam pelaksanaan tugas pembinaan umat Buddha di masyarakat.
Salah satu peserta, Ari Suryana selaku Penyuluh Agama Buddha Kota Medan, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman spiritual yang mendalam sekaligus memperkaya perspektif dalam menjalankan tugas kepenyuluhan. Ia juga menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan sebagai pedoman dalam pembinaan umat di tengah masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami semakin memahami bahwa Borobudur bukan hanya sekadar warisan budaya, tetapi juga merupakan simbol perjalanan batin yang sarat akan nilai kebijaksanaan dan keharmonisan hidup. Ini menjadi bekal penting bagi kami dalam menyampaikan ajaran Dhamma yang relevan dan membumi di tengah masyarakat,” ujar Ari Suryana.
Menurut peserta, kegiatan ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai makna spiritualitas Borobudur yang tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya dunia, tetapi juga sebagai simbol perjalanan batin, kebijaksanaan, dan harmoni kehidupan.
Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat pemahaman penyuluh mengenai pentingnya mengaktualisasikan nilai-nilai Dhamma dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam membangun masyarakat yang toleran, damai, dan berkarakter.
Kegiatan berlangsung dengan penuh semangat kebersamaan dan diikuti oleh aparatur serta penyuluh agama Buddha dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Melalui kegiatan ini diharapkan para penyuluh agama Buddha semakin profesional, adaptif, dan mampu menyampaikan pesan-pesan Dhamma yang relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.

