Penyuluh Katolik Medan Ajak Umat Menyeimbangkan Semangat Mendengarkan dan Melayani dalam Kehidupan Keluarga

Medan (Humas) – Penyuluh Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik Kementerian Agama Kota Medan, Zetra Hail Saragih, menggelar kegiatan penyuluhan keagamaan yang dikemas dalam bentuk Ibadat Sabda di Lingkungan Santo Yoseph Glugur Kota, Paroki Katedral Medan, Kamis (2/7/2026). Kegiatan yang dilaksanakan di rumah salah seorang umat tersebut mengangkat tema “Keluarga Berjalan Bersama untuk Saling Mendengarkan”, sebagai pertemuan pertama dalam rangka membangun keluarga Kristiani yang semakin berakar pada Sabda Allah serta menghidupi semangat Sinode Keuskupan Agung Medan.

Ibadat berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan. Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk semakin menyadari pentingnya menjadikan keluarga sebagai tempat pertama bertumbuhnya iman, kasih, dan komunikasi yang sehat, sehingga mampu menghadirkan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penyampaiannya, Zetra Hail Saragih mengajak umat merenungkan Injil Lukas 10:38–42 yang mengisahkan Maria dan Marta ketika menerima kunjungan Tuhan Yesus. Ia menjelaskan bahwa kisah tersebut memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara mendengarkan Sabda Tuhan dan melayani sesama.

Menurutnya, Marta tidak melakukan kesalahan ketika melayani Yesus dengan penuh kasih dan tanggung jawab. Namun, Tuhan Yesus mengingatkan agar pelayanan tidak dijalankan dengan hati yang dipenuhi kecemasan dan kegelisahan, melainkan berakar pada relasi yang intim dengan Tuhan melalui sikap mendengarkan Sabda-Nya.

“Maria dan Marta memberikan teladan yang saling melengkapi. Mendengarkan Sabda Tuhan dan melayani sesama bukanlah dua hal yang bertentangan, tetapi harus berjalan seiring. Pelayanan akan menjadi lebih bermakna ketika lahir dari hati yang terlebih dahulu dipenuhi oleh firman dan kasih Tuhan,” ungkap Zetra.

Ia menambahkan bahwa keluarga Kristiani dipanggil untuk menjadi gereja kecil (ecclesia domestica) yang menumbuhkan budaya saling mendengarkan. Kebiasaan menyediakan waktu untuk berdoa bersama, membaca Kitab Suci, dan mendengarkan satu sama lain dengan penuh perhatian akan memperkuat relasi antaranggota keluarga sekaligus melahirkan semangat pelayanan yang tulus.

“Keluarga yang mau berjalan bersama adalah keluarga yang terlebih dahulu belajar mendengarkan Tuhan dan saling mendengarkan. Ketika komunikasi dibangun dengan kasih dan penghargaan, setiap pelayanan dalam keluarga akan lahir bukan karena keterpaksaan, melainkan sebagai ungkapan cinta kepada Tuhan dan sesama,” jelasnya.

Lebih lanjut, Zetra mengajak umat untuk menghidupi semangat Sinode Keuskupan Agung Medan dengan membangun budaya dialog, keterbukaan, dan kebersamaan di lingkungan keluarga maupun komunitas. Menurutnya, keluarga yang mampu saling mendengarkan akan lebih mudah menghadapi berbagai tantangan kehidupan, menyelesaikan persoalan secara bijaksana, serta menjadi saksi kasih Kristus di tengah masyarakat.

Ia juga menegaskan bahwa keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam pembentukan karakter serta pewarisan nilai-nilai iman kepada anak-anak. Oleh sebab itu, setiap anggota keluarga hendaknya berkomitmen menciptakan suasana yang penuh kasih, saling menghargai, dan saling menguatkan.

Kegiatan Ibadat Sabda berlangsung dengan penuh antusias. Umat mengikuti seluruh rangkaian ibadat, doa, dan pendalaman Sabda Allah dengan khusyuk, sekaligus berbagi pengalaman mengenai pentingnya komunikasi dan kebersamaan dalam kehidupan keluarga.

Melalui kegiatan pembinaan ini, Penyuluh Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Medan terus menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh kehidupan umat secara nyata. Diharapkan, pembinaan yang berkesinambungan ini mampu memperkuat ketahanan keluarga Kristiani, menumbuhkan semangat hidup menggereja, serta membentuk keluarga-keluarga yang semakin beriman, harmonis, dan menjadi saksi kasih Kristus di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *