Penyuluh KUA Medan Amplas Ajak Jamaah Berdakwah dengan Hikmah dan Sambut Momentum Rashdul Kiblat

Medan (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang edukatif dan berdampak melalui berbagai kegiatan pembinaan di tengah masyarakat. Komitmen tersebut sejalan dengan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., yang secara berkesinambungan mendorong seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) untuk memberikan pelayanan publik yang profesional, responsif, serta mampu memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat.

Sebagai implementasi dari arahan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) di Majelis Taklim Muslimin pada Ahad (12/7/2026). Kegiatan yang diikuti oleh pengurus majelis taklim dan puluhan jamaah di lingkungan Masjid Muslimin ini berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif, dengan materi yang menggabungkan edukasi ilmu falak dan penguatan nilai-nilai dakwah Islam.

Sebelum menyampaikan materi utama, Dr. Syarto mengajak jamaah untuk memanfaatkan momentum fenomena Rashdul Kiblat atau Istiwa A’zam yang terjadi pada 15 dan 16 Juli 2026 pukul 16.27 WIB. Ia menjelaskan bahwa pada waktu tersebut posisi Matahari tepat berada di atas Ka’bah sehingga bayangan benda yang berdiri tegak dapat dijadikan acuan untuk memeriksa dan memastikan arah kiblat di rumah, masjid, musala, maupun tempat ibadah lainnya.

“Fenomena Rashdul Kiblat merupakan anugerah Allah yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memastikan kembali arah kiblat secara mudah dan ilmiah. Masyarakat tidak memerlukan alat yang rumit, cukup memanfaatkan bayangan benda yang berdiri tegak pada waktu yang telah ditentukan. Ini menjadi momentum yang sangat baik untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah kita,” jelas Dr. Syarto.

Memasuki materi inti, Dr. Syarto mengangkat hadis sahih riwayat Imam Muslim yang berbunyi, ‘Yassirū wa lā tu’assirū, basysyirū wa lā tunaffirū, wa tathāwa’ū wa lā takhtalifū’ yang berarti, “Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari, serta bersatu padulah dan jangan berselisih.” Menurutnya, hadis tersebut merupakan pedoman penting bagi setiap muslim, khususnya para dai dan pelayan umat, dalam menyampaikan dakwah yang penuh hikmah dan kasih sayang.

Ia menjelaskan bahwa prinsip “permudahlah dan jangan mempersulit” mengajarkan pentingnya memberikan solusi terhadap persoalan umat dengan pendekatan yang bijaksana tanpa mengurangi substansi ajaran Islam. Dakwah, lanjutnya, harus mampu menghadirkan ketenangan, harapan, dan semangat bagi masyarakat sehingga nilai-nilai Islam dapat diterima dengan baik.

“Dakwah Rasulullah SAW selalu mengedepankan kelembutan, kemudahan, dan kebijaksanaan. Tugas kita bukan membuat masyarakat merasa terbebani, tetapi menghadirkan agama sebagai rahmat yang memberikan solusi, menumbuhkan optimisme, serta mengajak umat semakin dekat kepada Allah SWT,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dr. Syarto menekankan bahwa bagian akhir hadis tersebut mengandung pesan yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, yaitu pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah, memperkuat persatuan, dan menghindari perpecahan akibat perbedaan pandangan yang masih berada dalam koridor syariat.

“Perbedaan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari, namun jangan sampai menjadi penyebab retaknya persaudaraan. Umat Islam harus saling menghormati, menjaga persatuan, dan menjadikan ukhuwah sebagai kekuatan dalam membangun masyarakat yang damai, rukun, dan harmonis,” tuturnya.

Para jamaah mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian dan antusias. Selain memperoleh pemahaman mengenai prinsip-prinsip dakwah yang santun, mereka juga mengapresiasi sosialisasi tentang fenomena Rashdul Kiblat yang dinilai sangat bermanfaat sebagai sarana untuk memverifikasi arah kiblat secara mandiri melalui pendekatan ilmiah.

Kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh penyuluh. Melalui pembinaan yang berkelanjutan ini, KUA Kecamatan Medan Amplas berharap masyarakat semakin memahami ajaran Islam secara utuh, mengedepankan dakwah yang penuh hikmah, memperkokoh persatuan umat, serta meningkatkan kualitas ibadah melalui pemahaman keagamaan yang benar, moderat, dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *