Medan (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas terus menguatkan perannya sebagai garda terdepan dalam pembinaan keagamaan melalui berbagai kegiatan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat. Berbagai program tersebut merupakan implementasi dari arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., yang mendorong seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) untuk menghadirkan pelayanan publik yang profesional, edukatif, serta mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan umat.
Sebagai tindak lanjut dari komitmen tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) di Majelis Taklim Taqwa pada Jumat (10/7/2026). Kegiatan yang diikuti oleh pengurus majelis taklim dan puluhan jamaah ini berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif dengan mengangkat tema “Semangat Hijrah: Membangun Peradaban Berbasis Aqidah.”
Dalam pemaparannya, Dr. Syarto menjelaskan bahwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah transformasi besar yang menjadi titik awal lahirnya peradaban Islam. Menurutnya, keberhasilan Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah berawal dari fondasi aqidah yang kokoh, kemudian diwujudkan melalui sistem sosial, ekonomi, dan pemerintahan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
“Hijrah mengajarkan kepada kita bahwa perubahan besar harus dimulai dari penguatan aqidah. Ketika keimanan telah kokoh, maka akan lahir masyarakat yang memiliki akhlak mulia, persaudaraan yang kuat, serta semangat membangun peradaban yang berkeadilan dan membawa kemaslahatan bagi semua,” ujar Dr. Syarto.
Ia menjelaskan bahwa setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW segera melakukan empat langkah strategis sebagai fondasi pembangunan masyarakat Islam. Pertama, membangun masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, musyawarah, dan pemberdayaan umat. Kedua, membangun pasar yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, serta bebas dari praktik riba, penipuan, dan monopoli sehingga tercipta ekonomi umat yang sehat dan mandiri.
Selanjutnya, Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sebagai wujud nyata penguatan ukhuwah Islamiyah yang mampu menghapus sekat-sekat sosial dan kesukuan. Pilar keempat adalah lahirnya Piagam Madinah, yang menjadi dasar kehidupan masyarakat majemuk dengan menjunjung tinggi nilai keadilan, tanggung jawab bersama, penghormatan terhadap hak setiap warga, serta semangat hidup berdampingan secara damai.
“Keempat langkah Rasulullah SAW tersebut sangat relevan untuk kita teladani pada masa sekarang. Membangun masyarakat yang kuat tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik, tetapi harus diawali dengan penguatan iman, persatuan, ekonomi yang sehat, serta komitmen menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.
Sebelum memasuki materi utama, Dr. Syarto juga mengajak seluruh jamaah memanfaatkan momentum fenomena astronomi Rashdul Kiblat atau Istiwa A’zam yang terjadi pada 15 dan 16 Juli 2026 pukul 16.27 WIB. Ia menerangkan bahwa ketika Matahari berada tepat di atas Ka’bah, bayangan benda yang berdiri tegak dapat dijadikan acuan untuk memverifikasi arah kiblat secara sederhana dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.
“Momentum Rashdul Kiblat merupakan kesempatan yang sangat baik bagi masyarakat untuk memastikan kembali arah kiblat di rumah, musala, maupun masjid. Ini merupakan ikhtiar ilmiah yang mudah dilakukan agar pelaksanaan ibadah salat semakin mantap dan sesuai dengan arah kiblat yang benar,” katanya.
Kajian berlangsung dengan penuh antusias. Para jamaah aktif berdiskusi mengenai implementasi nilai-nilai hijrah dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari penguatan aqidah, membangun persaudaraan, hingga meningkatkan kepedulian sosial di lingkungan masing-masing. Sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian kepada jamaah, panitia juga mengadakan pencabutan nomor undian, di mana beberapa peserta yang beruntung menerima hadiah berupa beras lima kilogram dari seorang donatur.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan salat Isya berjamaah. Melalui pembinaan yang berkesinambungan ini, KUA Kecamatan Medan Amplas berharap masyarakat semakin memahami makna hijrah secara komprehensif, menguatkan aqidah, mempererat ukhuwah, serta menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan dalam membangun peradaban yang maju, damai, dan berkeadaban. Di saat yang sama, edukasi mengenai Rashdul Kiblat diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memastikan ketepatan arah kiblat sebagai bagian dari penyempurnaan ibadah.

