Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., bersama Heri Fitrian, M.A., Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Selayang, memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada pasien rehabilitasi korban NAPZA di Kiki Alam Jaya, Jalan Seroja Raya, Kelurahan Tanjung Selamat, Kota Medan, Senin (10/8/2026). Kegiatan tersebut bertujuan memberikan penguatan mental dan spiritual sekaligus membekali para pasien dengan motivasi serta langkah-langkah positif dalam menjalani proses pemulihan dari ketergantungan NAPZA.
Dalam bimbingannya, Paidi menyampaikan bahwa salah satu langkah penting untuk melepaskan diri dari ketergantungan NAPZA adalah melakukan hijrah dengan meninggalkan lingkungan yang dapat memicu kebiasaan lama. Menurutnya, pasien perlu membangun lingkungan baru yang sehat, seperti aktif di rumah ibadah, bergabung dengan remaja masjid, mengikuti kegiatan olahraga, maupun berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki semangat memperbaiki diri. “Kalau ingin sembuh, kita harus berani pindah dan hijrah ke lingkungan yang baru. Jangan kembali kepada teman-teman lama yang dapat membawa kita kembali kepada kebiasaan buruk, tetapi carilah teman-teman baru yang fokus pada perbaikan diri dan dekat dengan Allah SWT,” ujar Paidi.
Paidi menambahkan, pasien juga harus belajar mencintai dan menghargai dirinya sendiri dengan menjaga kesehatan serta tidak kembali merusak diri. Selain itu, diperlukan perubahan cara pandang terhadap kehidupan dengan menetapkan tujuan hidup yang baru, yakni menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain. “Kita harus merasa memiliki diri kita sendiri. Jangan sampai diri yang sudah kita perjuangkan untuk pulih kembali kita rusak. Rawat dan jaga kesehatan, serta syukuri nikmat Allah sehingga kita dapat mengenal diri sendiri, mengenal orang lain, dan semakin mengenal Allah SWT,” tambahnya. Ia juga mengajak pasien untuk berdamai dengan masa lalu melalui taubat, memaafkan kesalahan diri, mengurangi rasa bersalah yang berlebihan, dan terus memperbaiki diri di jalan yang benar.
Sementara itu, Heri Fitrian memberikan penguatan spiritual dengan mengajak para pasien memperbanyak ibadah, doa, dan zikir sebagai bagian dari upaya menjaga ketenangan diri serta menghindari kembali ke jalan yang salah. Ia mengingatkan bahwa zikir dapat diamalkan kapan saja sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Ketika kita ingin berhijrah, hadirkan Allah SWT dalam setiap keadaan dan sadari bahwa Allah senantiasa mengawasi kita. Ketika merasa diawasi Allah, kita akan merasa malu untuk kembali menggunakan narkoba, berbohong, ataupun melakukan kesalahan yang baru,” ungkap Heri Fitrian.
Heri Fitrian juga mengajak para pasien membiasakan diri mengucapkan zikir-zikir sederhana yang mudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti la ilaha illallah, subhanallah, alhamdulillah, dan astaghfirullahal ‘azhim. Menurutnya, membangun kebiasaan ibadah secara konsisten dapat menjadi bagian dari ikhtiar spiritual dalam menjaga hati dan pikiran agar tetap kuat menghadapi proses pemulihan. Kegiatan bimbingan kemudian ditutup dengan muhasabah dan doa bersama untuk memohon kesembuhan, kekuatan, keteguhan hati, serta kemudahan bagi seluruh pasien korban NAPZA dalam menjalani proses rehabilitasi.
Bimbingan penyuluh agama kepada pasien rehabilitasi NAPZA menekankan bahwa proses pemulihan membutuhkan perubahan lingkungan, pemilihan pergaulan yang sehat, kecintaan terhadap diri sendiri, perubahan pola pikir, serta penguatan hubungan dengan Allah SWT. Hijrah dari lingkungan yang buruk, membangun kebiasaan positif, memperbanyak doa dan zikir, serta berdamai dengan masa lalu menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan baru yang lebih sehat, bermanfaat, dan bermakna.(Paidi).

