Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan, Ikhwan, S.H.I., memberikan bimbingan dan penyuluhan keagamaan kepada jamaah Majelis Taklim Al-Mukhlis dengan mengkaji kandungan Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 133–134, Rabu (5/8/2026). Kajian tersebut mengangkat tema tentang ciri-ciri orang bertakwa serta bagaimana nilai-nilai ketakwaan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan berlangsung dengan penuh antusias dan diikuti jamaah dari berbagai kalangan. Melalui penyuluhan tersebut, jamaah diajak untuk tidak hanya memahami kandungan ayat secara tekstual, tetapi juga mengambil pesan moral yang dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun lingkungan sosial.
Dalam penyampaiannya, Ikhwan menjelaskan bahwa Surah Ali Imran ayat 133–134 menggambarkan karakter orang-orang yang bertakwa dan memperoleh ampunan serta surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Menurutnya, ayat tersebut memberikan gambaran bahwa ketakwaan tidak berhenti pada pelaksanaan ibadah, tetapi harus tercermin melalui akhlak dan kepedulian seseorang terhadap sesama.
“Ketakwaan bukan hanya tentang hubungan kita dengan Allah SWT, tetapi juga bagaimana hubungan kita dengan manusia. Orang yang bertakwa akan berusaha menjaga lisannya, perilakunya, kepeduliannya kepada sesama, serta mampu mengendalikan diri ketika menghadapi persoalan,” ujar Ikhwan.
Ia menguraikan beberapa ciri orang bertakwa sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut. Pertama, orang bertakwa adalah mereka yang gemar menginfakkan hartanya, baik ketika berada dalam keadaan lapang maupun sempit. Sikap tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim hendaknya memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap kondisi orang lain tanpa harus menunggu dirinya berada dalam keadaan berlebih.
“Allah mengajarkan kita untuk tetap berbagi dalam keadaan lapang maupun sempit. Artinya, kebaikan tidak boleh hanya dilakukan ketika kita memiliki kelebihan. Sekecil apa pun yang kita miliki, apabila diberikan dengan ikhlas dan bermanfaat bagi orang lain, insyaallah memiliki nilai di sisi Allah SWT,” jelasnya.
Ciri berikutnya adalah kemampuan menahan amarah. Ikhwan mengingatkan bahwa marah merupakan bagian dari sifat manusia, namun seorang Muslim dituntut untuk mampu mengendalikan emosi agar tidak melahirkan perkataan maupun perbuatan yang dapat menyakiti orang lain. Kemampuan mengendalikan amarah menjadi salah satu bentuk kekuatan diri sekaligus cerminan kematangan akhlak.
Selain menahan amarah, ayat tersebut juga mengajarkan pentingnya memberikan maaf kepada orang lain. Menurut Ikhwan, memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan yang dilakukan seseorang, melainkan menunjukkan kelapangan hati dan keinginan untuk tidak terus-menerus menyimpan dendam.
“Menahan amarah dan memaafkan memang tidak selalu mudah, tetapi itulah bagian dari latihan ketakwaan. Ketika kita mampu mengendalikan emosi dan memilih untuk memaafkan, kita sedang belajar menjadi pribadi yang lebih dekat dengan akhlak yang diajarkan Islam,” tuturnya.
Ikhwan juga mengajak jamaah Majelis Taklim Al-Mukhlis untuk menjadikan kandungan Surah Ali Imran ayat 133–134 sebagai bahan evaluasi diri. Menurutnya, kajian Al-Qur’an akan semakin bermakna apabila mampu mendorong perubahan perilaku, mulai dari meningkatkan kepedulian sosial, menjaga hubungan dengan keluarga dan tetangga, hingga membangun kebiasaan saling memaafkan.
“Jangan sampai Al-Qur’an hanya kita baca dan kita dengarkan, tetapi tidak kita hadirkan dalam perilaku sehari-hari. Mari kita buktikan ketakwaan melalui perbuatan, dengan gemar berbagi, mampu menahan amarah, mudah memaafkan, dan terus berusaha berbuat baik kepada sesama,” ajaknya.
Melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan tersebut, Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan terus berupaya menghadirkan pembinaan keagamaan yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Kajian Al-Qur’an di majelis taklim diharapkan tidak hanya menambah wawasan keislaman jamaah, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter umat yang lebih peduli, sabar, pemaaf, dan senantiasa berorientasi pada kebaikan.
Dengan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Surah Ali Imran ayat 133–134, jamaah diharapkan mampu menjadikan ketakwaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketakwaan yang diwujudkan melalui ibadah, kepedulian sosial, pengendalian diri, dan sikap saling memaafkan diharapkan dapat memperkuat keharmonisan keluarga serta menciptakan kehidupan masyarakat yang damai dan penuh keberkahan.

