Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan, H. Abdullah Hakim, memberikan bimbingan dan penyuluhan keagamaan kepada jamaah Majelis Taklim Nurul Huda, Rabu (5/8/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Empat Cara Meraih Akhir Kehidupan Husnul Khatimah” sebagai upaya memberikan pemahaman kepada jamaah mengenai pentingnya mempersiapkan diri dengan bekal iman dan amal saleh dalam menjalani kehidupan hingga akhir hayat.
Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan diikuti jamaah dengan penuh antusias. Melalui materi yang disampaikan, jamaah diajak untuk tidak hanya memahami makna husnul khatimah sebagai akhir kehidupan yang baik, tetapi juga menyadari bahwa persiapan menuju akhir kehidupan harus dilakukan sejak sekarang melalui peningkatan kualitas ibadah, akhlak, serta hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Dalam penyampaiannya, Abdullah Hakim menjelaskan bahwa husnul khatimah merupakan dambaan setiap Muslim. Akhir kehidupan yang baik tidak cukup hanya diharapkan, tetapi perlu diiringi dengan ikhtiar untuk menjaga keimanan dan memperbanyak amal kebaikan secara konsisten. Menurutnya, kehidupan dunia merupakan kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk mempersiapkan bekal sebelum kembali kepada-Nya.
“Husnul khatimah adalah harapan setiap Muslim, tetapi harapan itu harus dibuktikan dengan usaha. Selama Allah SWT masih memberikan kita kesempatan untuk hidup, maka gunakan waktu tersebut untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, memperbanyak amal saleh, dan menjaga hubungan baik dengan sesama,” ujar Abdullah Hakim.
Ia kemudian menguraikan empat cara yang dapat dilakukan seorang Muslim dalam mengupayakan husnul khatimah. Pertama, menjaga keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Menurutnya, iman harus senantiasa dipelihara karena menjadi dasar bagi seluruh amal dan perilaku seorang Muslim. Ketakwaan juga perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kepatuhan terhadap perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Kedua, istiqamah dalam melaksanakan amal saleh. Abdullah Hakim mengingatkan bahwa amal kebaikan tidak harus selalu dalam bentuk sesuatu yang besar. Kebiasaan sederhana seperti menjaga salat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, membantu orang lain, berkata baik, serta menjaga silaturahmi apabila dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari bekal menuju kehidupan akhirat.
“Yang penting bukan hanya banyaknya amal, tetapi bagaimana kita mampu menjaganya dengan istiqamah. Jangan hanya rajin beribadah pada waktu tertentu, kemudian kembali lalai. Biasakan melakukan kebaikan sedikit demi sedikit, tetapi terus menerus, karena kita tidak mengetahui amal mana yang menjadi sebab datangnya rahmat Allah SWT,” jelasnya.
Cara ketiga adalah memperbanyak taubat dan istighfar. Ia mengajak jamaah untuk tidak merasa terlambat dalam memperbaiki diri selama masih diberikan kesempatan hidup. Setiap manusia memiliki kekurangan dan pernah melakukan kesalahan, sehingga taubat menjadi jalan untuk kembali kepada Allah SWT dengan penuh penyesalan dan tekad untuk meninggalkan perbuatan yang tidak baik.
Keempat, senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan akhir kehidupan yang baik. Abdullah Hakim menekankan bahwa manusia harus menyadari keterbatasan dirinya sehingga selain berikhtiar melalui amal saleh, juga harus memohon pertolongan dan rahmat Allah SWT. Doa menjadi bentuk ketundukan sekaligus pengakuan bahwa segala sesuatu, termasuk akhir kehidupan seseorang, berada dalam kehendak Allah SWT.
“Husnul khatimah bukan hanya menjadi harapan setiap Muslim, tetapi juga harus diupayakan melalui keimanan yang kuat, amal saleh yang terus dijaga, taubat dan istighfar yang tidak pernah putus, serta doa yang senantiasa dipanjatkan. Jangan menunggu tua untuk memperbaiki diri, karena tidak seorang pun mengetahui kapan waktunya kembali kepada Allah,” tuturnya.
Selain membahas empat langkah tersebut, Abdullah Hakim juga mengingatkan jamaah agar senantiasa menjaga akhlak dan hubungan baik dengan sesama. Menurutnya, kehidupan seorang Muslim tidak hanya berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga menyangkut bagaimana seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, dan masyarakat di sekitarnya. Menjaga lisan, menghindari permusuhan, memaafkan kesalahan, serta membantu orang yang membutuhkan merupakan bagian dari upaya memperbaiki kualitas kehidupan.
Ia berharap materi yang disampaikan dapat menjadi pengingat bagi jamaah Majelis Taklim Nurul Huda untuk senantiasa melakukan evaluasi diri. Setiap hari hendaknya menjadi kesempatan untuk memperbaiki kekurangan, meningkatkan ibadah, dan menambah amal kebaikan sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat.
Melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan tersebut, Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan terus berupaya menghadirkan pembinaan yang memberikan manfaat dan penguatan spiritual bagi masyarakat. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah senantiasa diberikan kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan, memperoleh rahmat dan ampunan Allah SWT, serta dianugerahi akhir kehidupan dalam keadaan husnul khatimah.

