Medan Amplas (Humas) — Komitmen Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat terus diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan Rohani (Bimroh). Pembinaan tersebut tidak hanya dilaksanakan di ruang-ruang kegiatan keagamaan, tetapi juga menyasar masyarakat yang tengah menghadapi ujian kesehatan dan membutuhkan penguatan mental serta spiritual selama menjalani perawatan.
Hal itu sejalan dengan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar senantiasa memberikan pelayanan dan bimbingan yang prima serta berdampak di tengah-tengah masyarakat. Menurutnya, kehadiran KUA harus dapat dirasakan manfaatnya dalam berbagai kondisi kehidupan masyarakat, termasuk ketika pasien dan keluarga sedang menghadapi masa-masa sulit.
“Pelayanan keagamaan harus hadir di tengah kebutuhan masyarakat. Ketika ada masyarakat yang sedang sakit dan membutuhkan penguatan, Penyuluh Agama harus berusaha hadir memberikan pendampingan, motivasi, dan bimbingan sesuai dengan kondisi yang dihadapi,” ujar H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan.
Implementasi arahan tersebut terlihat pada Selasa (8/9/2026), ketika Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., H. Harun Arrasyid, Lc., dan Nurbaiti Lubis melaksanakan Bimroh di RS Mitra Sejati. Bimbingan dilakukan dengan mengunjungi pasien yang menjalani perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU) lantai 2, 3, dan 4.
Kehadiran para Penyuluh di ruang perawatan menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pendampingan spiritual bagi pasien yang sedang menjalani proses pengobatan. Dari satu ruang ke ruang lainnya, para Penyuluh memberikan penguatan keagamaan dengan pendekatan yang menenangkan dan disesuaikan dengan kondisi pasien maupun keluarga yang mendampingi.
Salah satu pesan yang diberikan diarahkan kepada keluarga pasien. Para Penyuluh mengingatkan agar momentum kunjungan tidak hanya dimanfaatkan untuk melihat kondisi pasien, tetapi juga menjadi kesempatan memberikan semangat, dukungan moral, dan motivasi agar pasien tetap memiliki harapan dalam menjalani proses pengobatan.
“Keluarga memiliki peran penting dalam mendampingi orang yang sedang sakit. Dukungan berupa perhatian, kata-kata yang menenangkan, dan motivasi untuk tetap menjalani pengobatan dapat menjadi kekuatan bagi pasien. Karena itu, jangan lelah memberikan semangat dan terus mendoakan kesembuhan,” disampaikan dalam bimbingan tersebut.
Para Penyuluh juga mengajak keluarga untuk terus mendorong anggota keluarganya yang sedang sakit agar menjalani proses pengobatan dengan sungguh-sungguh. Ikhtiar medis tetap perlu dilakukan secara optimal, sementara doa dan dukungan keluarga menjadi kekuatan yang tidak kalah penting dalam menghadapi masa perawatan.
Dalam bimbingan tersebut, pasien juga diajak memperkuat hubungan spiritual dengan Allah Ta’ala. Kondisi sakit dipandang sebagai momentum untuk meningkatkan kesabaran, memperbanyak doa, memperkuat tawakal, serta senantiasa memelihara sikap berbaik sangka kepada Allah Ta’ala.
“Kesembuhan merupakan bagian dari ketetapan Allah Ta’ala, sementara manusia berkewajiban melakukan ikhtiar sebaik mungkin. Karena itu, usaha dan doa perlu berjalan beriringan. Pengobatan tetap dilakukan dengan sungguh-sungguh, tetapi hati juga harus tetap disandarkan kepada pertolongan dan ketetapan Allah,” pesan Penyuluh Agama dalam kegiatan tersebut.
Selain penguatan mental dan spiritual, aspek ibadah juga menjadi perhatian dalam Bimroh. Pasien diingatkan agar tetap berusaha menegakkan salat meskipun berada dalam kondisi sakit. Islam memberikan kemudahan dalam pelaksanaan ibadah sesuai dengan kemampuan seseorang, sehingga keterbatasan kondisi fisik tidak serta-merta menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban salat selama seseorang masih memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melaksanakannya.
Bagi pasien yang berada dalam kondisi tertentu dan tidak diperbolehkan terkena air, para Penyuluh turut mengingatkan adanya keringanan dalam syariat berupa tayamum sebagai pengganti wudu apabila memenuhi ketentuannya. Bimbingan tersebut diberikan agar pasien tetap dapat menjalankan kewajiban ibadah dengan memperhatikan kondisi kesehatan dan ketentuan medis yang sedang dijalani.
Pendekatan Bimroh tersebut menunjukkan bahwa pelayanan keagamaan tidak berhenti pada penyampaian materi secara formal, tetapi juga hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi psikologis dan spiritual masyarakat. Pasien yang sedang menjalani perawatan membutuhkan perhatian secara menyeluruh, termasuk ketenangan batin, optimisme, doa, serta penguatan keyakinan kepada Allah Ta’ala.
Bagi keluarga, kehadiran Penyuluh juga menjadi pengingat bahwa mendampingi orang sakit membutuhkan kesabaran dan keteguhan. Keluarga diharapkan terus memberikan motivasi, membantu menjaga semangat pasien, serta bersama-sama memanjatkan doa agar proses pengobatan dapat dilalui dengan baik.
“Kita berharap kehadiran Penyuluh di rumah sakit dapat memberikan sedikit ketenangan bagi pasien dan keluarga. Mungkin yang kami berikan bukan pengobatan secara medis, tetapi penguatan rohani, doa, dan motivasi agar mereka tetap memiliki harapan serta keteguhan dalam menghadapi ujian,” ungkap salah seorang Penyuluh.
Kegiatan Bimroh kemudian ditutup dengan doa bersama. Para Penyuluh, pasien, dan keluarga yang memungkinkan untuk mengikuti bersama-sama memohon kepada Allah Ta’ala agar para pasien diberikan kesembuhan, diangkat segala penyakit dan kesulitannya, diberikan kekuatan dalam menjalani proses pengobatan, serta dimudahkan dalam seluruh urusan kehidupan.
Doa tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa di tengah ikhtiar manusia, terdapat ruang penghambaan yang tidak boleh ditinggalkan. Kesabaran, doa, tawakal, dan husnuzan kepada Allah Ta’ala diharapkan menjadi sumber kekuatan bagi pasien dan keluarga dalam melewati masa perawatan.
Melalui kegiatan tersebut, KUA Kecamatan Medan Amplas terus memperlihatkan bahwa pelayanan keagamaan dapat hadir dalam berbagai situasi kehidupan masyarakat. Bimroh di rumah sakit menjadi salah satu bentuk nyata peran Penyuluh Agama dalam memberikan pendampingan yang humanis, religius, dan berdampak, sekaligus menerjemahkan arahan pimpinan KUA untuk menghadirkan pelayanan yang prima di tengah masyarakat.

