Medan Amplas (Humas) — Komitmen Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas dalam menghadirkan pelayanan dan bimbingan keagamaan yang prima dan berdampak di tengah masyarakat terus diwujudkan melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan (Bimluh). Pembinaan tersebut menjadi bagian dari upaya mendekatkan layanan keagamaan dengan kehidupan masyarakat sekaligus memberikan pemahaman yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini sejalan dengan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar tidak hanya hadir memberikan layanan administratif, tetapi juga aktif memberikan pembinaan keagamaan yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Implementasi arahan tersebut terlihat pada Ahad (13/9/2026), ketika Dr. Syarto, Lc., M.A., melaksanakan kegiatan Bimluh di Muslimin. Dalam kesempatan tersebut, materi pembinaan mengangkat hadis Rasulullah SAW yang memberikan penekanan kuat terhadap pentingnya akhlak mulia dalam kehidupan seorang Muslim.
Hadis yang menjadi bahan kajian tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bukanlah orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang sengaja melakukan perbuatan keji. Beliau bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
Dalam penyampaiannya, Syarto menekankan bahwa ajaran Islam tidak hanya berbicara mengenai aspek ibadah secara ritual, tetapi juga membentuk kepribadian dan perilaku manusia. Akhlak menjadi bagian penting dari kesempurnaan keberagamaan karena kualitas iman seharusnya tercermin dalam cara seseorang berbicara, bersikap, dan berinteraksi dengan orang lain.
“Ukuran kebaikan seorang Muslim tidak hanya terlihat dari ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga lisannya, memperlakukan orang lain, dan menghadirkan kebaikan dalam kehidupan. Karena itu, akhlak harus menjadi bagian yang terus kita perbaiki,” ujar Syarto.
Keteladanan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak dibenarkan membiasakan ucapan kasar, perkataan kotor, penghinaan, maupun perilaku yang menyakiti sesama. Sebaliknya, seorang Muslim dituntut membangun komunikasi yang santun, menjaga lisan, menghormati orang lain, serta menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan sosial.
Pesan hadis tersebut juga dinilai sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Di tengah perkembangan teknologi komunikasi dan media sosial, persoalan akhlak tidak hanya berkaitan dengan perilaku dalam interaksi secara langsung, tetapi juga bagaimana seseorang menggunakan kata-kata dan menyampaikan pendapat di ruang publik.
Perkataan yang merendahkan, mencaci, menyebarkan kebencian, maupun mempermalukan orang lain dapat menimbulkan persoalan sosial apabila tidak dikendalikan. Karena itu, kemampuan menjaga lisan perlu diterapkan pula dalam penggunaan media digital agar perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan kebaikan, bukan sebaliknya.
“Menjaga akhlak juga berarti menjaga apa yang kita tulis dan sampaikan di media sosial. Jangan sampai lisan kita terjaga ketika berbicara langsung, tetapi jari kita justru menuliskan sesuatu yang menyakiti orang lain. Nilai akhlak harus hadir di mana pun kita berada, termasuk di ruang digital,” jelasnya.
Karena itu, pembinaan keagamaan perlu diarahkan agar nilai-nilai yang dipelajari tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak yang baik menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran nilai-nilai Islam di tengah masyarakat, baik dalam kehidupan keluarga, lingkungan kerja, maupun hubungan sosial.
Kegiatan Bimluh yang dilaksanakan Syarto menjadi bagian dari ikhtiar KUA Kecamatan Medan Amplas untuk mendekatkan fungsi pembinaan keagamaan dengan realitas kehidupan masyarakat. Materi yang disampaikan tidak hanya memberikan pengetahuan keagamaan, tetapi juga mengajak jamaah melakukan evaluasi terhadap sikap dan perilaku masing-masing.
Arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas agar seluruh unsur KUA memberikan pelayanan dan bimbingan yang prima dan berdampak menjadi landasan penting dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Penyuluhan agama diharapkan mampu menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman keislaman sekaligus membangun karakter masyarakat yang santun, harmonis, dan berakhlak mulia.
Menurut Syarto, keteladanan Rasulullah SAW dalam menjaga ucapan dan perilaku perlu terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut dapat dimulai dari lingkungan paling dekat, seperti keluarga, kemudian berkembang dalam hubungan dengan tetangga, lingkungan kerja, dan masyarakat secara luas.
“Kalau akhlak yang baik dimulai dari diri sendiri, kemudian diterapkan dalam keluarga dan lingkungan sekitar, insyaallah akan memberikan pengaruh yang lebih luas. Kita tidak hanya ingin jamaah mengetahui hadis tentang akhlak, tetapi juga menjadikannya sebagai pengingat untuk terus memperbaiki diri,” ungkapnya.
Dengan demikian, Bimluh tidak hanya menjadi ruang penyampaian materi keagamaan, tetapi juga sarana membangun kesadaran dan kebiasaan positif. Jamaah diajak memahami bahwa keberagamaan yang baik seharusnya melahirkan sikap yang santun, mampu menjaga ucapan, menghormati sesama, dan menjauhi perilaku yang dapat merugikan orang lain.
Kegiatan Bimluh kemudian ditutup dengan doa bersama. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Isyraq secara munfarid sebagai bagian dari penguatan pembiasaan ibadah dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, KUA Kecamatan Medan Amplas terus berupaya menghadirkan bimbingan keagamaan yang tidak sekadar informatif, tetapi juga memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan pribadi dan kehidupan sosial masyarakat. Nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW diharapkan dapat terus dihidupkan sehingga pembinaan keagamaan benar-benar memberikan dampak dalam membangun masyarakat yang santun, harmonis, dan berakhlak mulia.

