Bimroh di RS Mitra Sejati, Penyuluh KUA Medan Amplas Perkuat Spiritual Pasien dan Keluarga

Medan (Humas) — Pelayanan keagamaan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat terus menjadi perhatian Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas. Tidak hanya hadir dalam berbagai kegiatan keagamaan di tengah masyarakat, para Penyuluh Agama Islam juga mengambil peran dalam memberikan penguatan spiritual kepada masyarakat yang sedang menghadapi ujian kesehatan.

Langkah tersebut merupakan bagian dari implementasi arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar senantiasa memberikan pelayanan dan bimbingan yang prima serta berdampak di tengah masyarakat. Arahan tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan pembinaan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, termasuk pendampingan keagamaan bagi pasien dan keluarga di rumah sakit.

Pada Selasa (15/9/2026), Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas melaksanakan kegiatan Bimbingan Rohani (Bimroh) di RS Mitra Sejati. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Dr. Syarto, Lc., M.A., H. Harun Arrasyid, Lc., dan Nurbaiti Lubis dengan menyambangi pasien yang menjalani perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU) lantai 2, 3, dan 4.

Kunjungan dari satu ruang pasien ke ruang lainnya dilakukan sebagai bentuk kepedulian sekaligus pendampingan keagamaan bagi pasien dan keluarga. Dalam kondisi ketika pasien menghadapi perawatan intensif, penguatan spiritual diharapkan dapat membantu menjaga ketenangan batin, membangun optimisme, serta menumbuhkan keteguhan dalam menjalani proses pengobatan.

“Pelayanan keagamaan harus hadir di tengah kebutuhan masyarakat. Ketika ada masyarakat yang sedang sakit dan membutuhkan penguatan, Penyuluh Agama harus berusaha hadir memberikan pendampingan, motivasi, dan bimbingan sesuai dengan kondisi yang dihadapi,” ujar H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan.

Di sela-sela kunjungan, para Penyuluh memberikan penguatan kepada keluarga pasien agar terus memberikan dukungan kepada anggota keluarga yang sedang menjalani perawatan. Keluarga diingatkan untuk memanfaatkan waktu kunjungan sebagai momentum memberikan semangat dan motivasi, sekaligus mendukung pasien agar tetap menjalani ikhtiar pengobatan dengan sungguh-sungguh sesuai anjuran tenaga kesehatan.

“Keluarga memiliki peran penting dalam mendampingi orang yang sedang sakit. Dukungan berupa perhatian, kata-kata yang menenangkan, dan motivasi untuk tetap menjalani pengobatan dapat menjadi kekuatan bagi pasien. Karena itu, jangan lelah memberikan semangat dan terus mendoakan kesembuhan,” disampaikan dalam bimbingan tersebut.

Para Penyuluh juga mengingatkan bahwa ikhtiar pengobatan dan doa perlu berjalan beriringan. Manusia berkewajiban melakukan usaha sebaik mungkin, sedangkan hasil akhirnya diserahkan kepada Allah Ta’ala dengan penuh tawakkal. Sikap tersebut diharapkan dapat membantu pasien dan keluarga menjalani proses perawatan dengan lebih tenang tanpa kehilangan harapan.

“Kesembuhan merupakan bagian dari ketetapan Allah Ta’ala, sementara manusia berkewajiban melakukan ikhtiar sebaik mungkin. Karena itu, usaha dan doa perlu berjalan beriringan. Pengobatan tetap dilakukan dengan sungguh-sungguh, tetapi hati juga harus tetap disandarkan kepada pertolongan dan ketetapan Allah,” pesan Penyuluh Agama.

Kepada pasien yang dikunjungi, para Penyuluh memberikan penguatan agar memperbanyak kesabaran dalam menghadapi kondisi yang sedang dialami. Rasa sakit dan proses perawatan yang panjang dapat menghadirkan rasa cemas, lelah, maupun kekhawatiran, sehingga pasien diajak untuk tetap menjaga ketenangan hati, memperkuat tawakkal, dan senantiasa berbaik sangka kepada Allah Ta’ala.

Dalam bimbingannya, para Penyuluh juga mengingatkan bahwa tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah berbagai ikhtiar dilakukan secara optimal. Dengan husnuzan kepada Allah, pasien diharapkan mampu melihat proses yang dijalani dengan hati yang lebih tenang dan tetap memiliki kekuatan untuk menghadapi setiap tahapan perawatan.

Aspek ibadah turut menjadi bagian penting dalam Bimroh tersebut. Para Penyuluh mengingatkan pasien agar tetap melaksanakan salat sesuai dengan kemampuan, karena kondisi sakit tidak serta-merta menggugurkan kewajiban salat bagi orang yang masih memiliki kesadaran. Islam memberikan berbagai kemudahan dalam pelaksanaan ibadah sesuai dengan kondisi dan kemampuan seseorang.

Bagi pasien yang berada dalam kondisi medis sehingga tidak diperbolehkan terkena air, para Penyuluh mengingatkan adanya keringanan melalui tayammum sesuai dengan ketentuan syariat. Dengan demikian, kondisi sakit tidak menjadi penghalang bagi seorang Muslim untuk tetap menjaga hubungan spiritual dengan Allah Ta’ala melalui salat, doa, zikir, kesabaran, dan tawakkal.

Bimroh di RS Mitra Sejati juga memperlihatkan bahwa fungsi Penyuluh Agama memiliki ruang pengabdian yang luas. Pendampingan kepada pasien bukan sekadar menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga menghadirkan perhatian, ketenangan, dan dukungan moral kepada masyarakat ketika berada dalam kondisi yang membutuhkan penguatan.

“Kami berharap kehadiran Penyuluh di rumah sakit dapat memberikan sedikit ketenangan bagi pasien dan keluarga. Mungkin yang kami berikan bukan pengobatan secara medis, tetapi penguatan rohani, doa, dan motivasi agar mereka tetap memiliki harapan serta keteguhan dalam menghadapi ujian,” ungkap salah seorang Penyuluh.

Kehadiran Penyuluh di ruang ICU menjadi salah satu bentuk nyata bahwa pelayanan KUA dapat hadir dalam berbagai sisi kehidupan masyarakat. Pendekatan keagamaan diberikan sebagai pendampingan spiritual yang berjalan bersama ikhtiar medis, sehingga pasien dan keluarga tetap mendapatkan penguatan dalam menjalani proses perawatan.

Pada penghujung kegiatan, Bimroh ditutup dengan doa bersama. Para Penyuluh bersama pasien dan keluarga memohon kepada Allah Ta’ala agar seluruh pasien diberikan kesembuhan, diangkat segala penyakit dan kesulitannya, diberikan kekuatan dalam menjalani masa perawatan, serta dimudahkan seluruh urusan kehidupan.

Melalui kegiatan tersebut, KUA Kecamatan Medan Amplas kembali menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan keagamaan yang prima, humanis, dan berdampak sebagaimana arahan Kepala KUA. Kehadiran Penyuluh di tengah pasien dan keluarga menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan nilai-nilai agama bukan hanya dalam ruang pembelajaran, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan penguatan dan keteguhan hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *