Medan (Humas) — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Salman, Jalan STM, Medan Amplas, menjadi momentum untuk memperkuat syiar Islam sekaligus menanamkan kembali keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan masyarakat. Peringatan tersebut juga menjadi ruang untuk mengajak jamaah menjadikan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Syarto, Lc., M.A., Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Amplas, saat menghadiri undangan Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Salman pada puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu (12/9/2026). Kehadiran Dr. Syarto sekaligus mewakili Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A.
Dalam sambutannya, Syarto menyampaikan bahwa peringatan hari-hari besar Islam hendaknya tidak hanya dipahami sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat identitas keislaman, memperluas edukasi keagamaan, serta menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.
“Peringatan Maulid Nabi jangan hanya kita jadikan sebagai kegiatan tahunan. Momentum ini harus menjadi kesempatan untuk kembali mengingat keteladanan Rasulullah SAW dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan kita, baik dalam keluarga, pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Syarto.
Dalam kesempatan tersebut, Syarto juga mengajak masyarakat memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sarana memperluas syiar Islam. Ia memperkenalkan Podcast IKMA Channel (Informasi Keagamaan Medan Amplas) sebagai salah satu media edukasi keagamaan yang dikembangkan KUA Kecamatan Medan Amplas.
Menurutnya, perkembangan media digital memberikan ruang yang luas bagi lembaga keagamaan untuk menyampaikan pesan-pesan edukatif kepada masyarakat. Kehadiran media digital juga dinilai dapat menjadi jembatan antara lembaga keagamaan dan masyarakat, khususnya generasi muda yang semakin dekat dengan teknologi informasi.
“Kalau teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, maka syiar dan edukasi keagamaan juga harus mampu hadir di ruang tersebut. IKMA Channel kita dorong menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan informasi dan pembinaan keagamaan dengan cara yang komunikatif dan mudah diterima masyarakat,” jelasnya.
Podcast IKMA Channel diharapkan tidak hanya menjadi media penyampaian informasi, tetapi juga ruang dialog yang menghadirkan berbagai tema yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, mulai dari keislaman, keluarga, sosial, kepemudaan hingga persoalan-persoalan aktual yang membutuhkan perspektif keagamaan.
Masyarakat juga diajak untuk ikut mendukung dan menyebarluaskan konten-konten positif melalui media digital. Dengan keterlibatan masyarakat, pesan-pesan keagamaan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak orang dan menjadi bagian dari upaya memperluas syiar Islam di tengah perkembangan zaman.
Memperkuat Syiar Islam di Tengah Perubahan Budaya
Dalam sambutannya, Syarto juga menekankan pentingnya umat Islam menghidupkan berbagai peringatan hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mikraj, dan Tahun Baru Hijriah atau Muharram. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki fungsi penting sebagai sarana pendidikan umat sekaligus penguatan syiar Islam.
“Perayaan hari besar Islam jangan sampai kehilangan makna. Maulid, Isra Mikraj, dan Muharram harus kita jadikan momentum pendidikan umat dan penguatan syiar Islam, khususnya bagi generasi muda,” pesannya.
Menurutnya, semakin hidup kegiatan keagamaan di tengah masyarakat, semakin terbuka pula ruang bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, nilai, dan tradisi keislaman. Karena itu, syiar Islam perlu terus dikembangkan dengan pendekatan yang kreatif, edukatif, dan relevan dengan perkembangan masyarakat.
Hal tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan budaya yang berlangsung cepat. Generasi muda berhadapan dengan berbagai informasi dan budaya yang hadir melalui media digital, sehingga penguatan nilai agama dan keteladanan Rasulullah SAW perlu terus dilakukan melalui berbagai ruang kehidupan.
Dengan demikian, peringatan hari besar Islam diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan kegiatan, tetapi mampu melahirkan pemahaman, kecintaan terhadap agama, serta perubahan perilaku yang lebih baik. Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk mengajak umat melakukan refleksi terhadap sejauh mana nilai-nilai keteladanan Rasulullah telah diterapkan dalam kehidupan.
Meneladani Empat Sifat Wajib Rasulullah SAW
Pesan utama lainnya yang disampaikan Syarto adalah pentingnya menjadikan kehidupan Rasulullah SAW sebagai sumber keteladanan. Ia secara khusus mengingatkan jamaah untuk menanamkan empat sifat wajib Rasulullah SAW, yaitu shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
Shiddiq berarti benar atau jujur. Sifat tersebut menjadi fondasi dalam membangun kehidupan pribadi dan sosial yang sehat. Amanah mengajarkan pentingnya menjaga kepercayaan dan melaksanakan setiap tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.
Sementara itu, tabligh mengandung keteladanan dalam menyampaikan kebenaran dan kebaikan, sedangkan fathanah menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai persoalan. Keempat sifat tersebut dinilai memiliki relevansi yang kuat untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
“Kejujuran dibutuhkan dalam keluarga maupun pekerjaan, amanah diperlukan ketika kita diberi tanggung jawab, tabligh mengajarkan kita untuk menyampaikan kebaikan, dan fathanah mengingatkan kita agar menggunakan kecerdasan serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan,” terang Syarto.
Karena itu, menurutnya, mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya diwujudkan melalui ungkapan kecintaan atau kegiatan peringatan. Kecintaan tersebut perlu dibuktikan melalui upaya meneladani akhlak dan sifat beliau dalam kehidupan nyata.
“Kalau kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, maka harus ada upaya untuk meneladani beliau. Shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah jangan hanya kita hafal sebagai sifat wajib Rasul, tetapi harus kita usahakan menjadi bagian dari karakter dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Maulid Ditutup dengan Santunan Anak Yatim
Puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Salman juga diisi dengan taushiyah yang disampaikan Ustadz M. Jamil, M.Pd. Taushiyah menjadi bagian inti kegiatan untuk memperdalam pemahaman jamaah mengenai kehidupan, perjuangan, akhlak, serta keteladanan Rasulullah SAW.
Setelah taushiyah selesai, BKM Salman melanjutkan rangkaian kegiatan dengan menyantuni puluhan anak yatim yang tinggal di sekitar Masjid Salman. Santunan tersebut menjadi bagian penting dari peringatan Maulid karena memperlihatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW juga perlu diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama.
Kepedulian kepada anak yatim menjadi salah satu bentuk nyata semangat berbagi dan memperkuat kepedulian sosial di lingkungan masyarakat. Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa nilai-nilai yang disampaikan dalam peringatan Maulid dapat diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.
Rangkaian kegiatan Maulid Nabi di Masjid Salman berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Momentum tersebut sekaligus memperkuat peran masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pendidikan, pembinaan umat, penguatan syiar Islam, serta tempat menumbuhkan kepedulian sosial.
Kegiatan tersebut sejalan dengan semangat KUA Kecamatan Medan Amplas untuk terus menghadirkan pelayanan dan bimbingan keagamaan yang prima serta berdampak di tengah-tengah masyarakat. Melalui kolaborasi dengan masjid, majelis taklim, dan berbagai elemen umat, pembinaan keagamaan diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat serta mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas.

