Medan (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas terus memperkuat peran pembinaan keagamaan di tengah masyarakat melalui berbagai kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang berkelanjutan. Upaya ini merupakan implementasi arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh penyuluh agama, penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar senantiasa menghadirkan pelayanan dan pembinaan yang prima, edukatif, serta memberikan dampak positif bagi kehidupan umat.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (BIMLUH) di Majelis Taklim As-Sa’adah, Rabu (17/6/2026). Kegiatan yang dihadiri pengurus majelis taklim, H. Waizul Qarni, M.A., beserta puluhan jamaah itu mengangkat tema “Khauf dan Rajā’: Seimbang antara Takut dan Harap kepada Allāh Ta’ala.”
Dalam suasana yang penuh kekhidmatan, para jamaah mengikuti kajian dengan antusias. Tema yang diangkat dinilai sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari karena menyentuh aspek fundamental dalam perjalanan spiritual seorang muslim, yakni bagaimana menjaga keseimbangan antara rasa takut kepada Allah dan harapan terhadap rahmat-Nya.
Dalam pemaparannya, Syarto menjelaskan bahwa khauf (takut) dan rajā’ (harap) merupakan dua pilar utama yang harus dimiliki setiap muslim. Keduanya berfungsi sebagai pengendali sekaligus pendorong dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan tuntunan agama.
Menurutnya, khauf adalah rasa takut seorang hamba terhadap murka, azab, dan hukuman Allah Ta’ālā akibat dosa dan kelalaian yang dilakukan. Namun, rasa takut tersebut bukanlah untuk membuat seseorang terpuruk dalam keputusasaan, melainkan menjadi motivasi untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.
“Seorang muslim yang memiliki rasa takut kepada Allāh Ta’ālā akan lebih berhati-hati dalam ucapan, perbuatan, maupun keputusan hidupnya. Ia sadar bahwa setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allāh Ta’ala,” jelas Syarto.
Di sisi lain, ia menerangkan bahwa rajā’ merupakan harapan seorang hamba terhadap rahmat, ampunan, dan karunia Allah Ta’ālā. Harapan tersebut menjadi energi positif yang menjaga seseorang tetap optimis meskipun menghadapi berbagai ujian kehidupan ataupun pernah melakukan kesalahan di masa lalu.
Lebih lanjut, Syarto menegaskan bahwa keseimbangan antara khauf dan rajā’ merupakan ciri keimanan yang matang. Ketidakseimbangan antara keduanya dapat menimbulkan dampak negatif dalam kehidupan beragama.
“Jika seseorang hanya memiliki rasa takut tanpa harapan, ia dapat terjerumus ke dalam keputusasaan. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan harapan tanpa rasa takut, ia berpotensi meremehkan dosa dan melalaikan kewajiban agama,” ungkapnya.
Ia mengibaratkan khauf dan rajā’ sebagai dua sayap yang membawa seorang mukmin menuju keridhaan Allah Ta’ala.
“Seorang mukmin hendaknya berjalan menuju Allāh Ta’ālā dengan dua sayap, yaitu khauf dan rajā’. Dengan keduanya, perjalanan spiritual akan lebih seimbang, terarah, dan penuh kesadaran,” tambahnya.
Selain menyampaikan materi, pemateri juga mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah diri serta memperkuat hubungan dengan Allah melalui ibadah, doa, zikir, dan amal saleh. Menurutnya, keseimbangan antara rasa takut dan harapan akan melahirkan ketenangan batin sekaligus semangat untuk terus memperbaiki kualitas keimanan.
Antusiasme jamaah terlihat dalam sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan disampaikan, mulai dari cara menumbuhkan rasa takut kepada Allah tanpa kehilangan optimisme hingga bagaimana menjaga harapan terhadap rahmat-Nya saat menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Dr. Syarto, dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Isya berjamaah. Suasana kebersamaan dan kekhusyukan yang terbangun selama kegiatan menjadi cerminan semangat jamaah dalam memperdalam pemahaman agama dan meningkatkan kualitas spiritualitas.
Melalui kegiatan BIMLUH ini, KUA Kecamatan Medan Amplas berharap masyarakat semakin memahami pentingnya keseimbangan antara khauf dan rajā’ sebagai fondasi aqidah dan kehidupan spiritual. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan lahir pribadi-pribadi muslim yang lebih taat, optimis, berakhlak mulia, serta istiqamah dalam menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam.

