Penyuluh Agama Kemenag Medan Perkuat Bimbingan Rohani Warga Binaan di Rutan Labuhan Deli

Medan (Humas) — Kementerian Agama Kota Medan melalui Penyuluh Agama terus memperkuat pembinaan keagamaan bagi masyarakat melalui pelayanan bimbingan rohani, termasuk kepada warga binaan pemasyarakatan. Kegiatan Bimbingan Rohani (Bimroh) dilaksanakan di Rutan Kelas I Labuhan Deli, Rabu (19/8/2026), dengan melibatkan Suriadi, Hermansyah, Sontang Muda Harahap, dan M. Rusli sebagai penyampai materi serta penguatan keagamaan. Pembinaan tersebut diarahkan untuk memberikan penguatan spiritual, menumbuhkan kesadaran diri, dan membangun semangat warga binaan untuk menjalani masa pembinaan dengan lebih baik. Kehadiran Penyuluh Agama di lingkungan rutan diharapkan dapat memberikan pendampingan yang tidak hanya bersifat keagamaan, tetapi juga mendorong perubahan positif dalam kehidupan warga binaan.

Dalam bimbingannya, Suriadi mengajak warga binaan untuk memandang masa pembinaan sebagai kesempatan melakukan introspeksi sekaligus memperbaiki berbagai kekurangan dalam diri. Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik selama memiliki kemauan dan kesungguhan untuk memperbaiki diri. Kedekatan kepada Tuhan melalui ibadah dan penguatan iman juga dinilai dapat memberikan ketenangan serta kekuatan dalam menghadapi proses pembinaan. “Masa pembinaan ini hendaknya kita jadikan kesempatan untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat,” ujar Suriadi.

Ia menambahkan bahwa masa yang sedang dijalani di dalam rutan hendaknya tidak hanya dipandang sebagai keterbatasan ruang dan waktu, tetapi juga sebagai kesempatan untuk menata kembali kehidupan. Menurutnya, introspeksi dapat membantu seseorang memahami kesalahan masa lalu dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk menentukan langkah yang lebih baik di masa mendatang. “Jangan biarkan masa lalu menjadi alasan untuk kehilangan harapan. Jadikan pengalaman yang telah dilalui sebagai pelajaran agar kita dapat mengambil keputusan yang lebih baik ketika kesempatan untuk kembali ke masyarakat tiba,” pesannya. Ia berharap warga binaan tetap optimistis dan menjadikan setiap proses pembinaan sebagai bagian dari perjalanan menuju perubahan.

Penguatan berikutnya disampaikan Hermansyah yang menekankan pentingnya menjaga semangat untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Ia menyampaikan bahwa perubahan tidak selalu terjadi dalam waktu singkat, tetapi membutuhkan proses, kesabaran, dan kemauan untuk meninggalkan kebiasaan yang kurang baik. Bimbingan keagamaan diharapkan dapat menjadi ruang bagi warga binaan untuk mendapatkan ketenangan sekaligus membangun kesadaran dalam memperbaiki sikap dan perilaku. “Jangan pernah berhenti untuk belajar dan memperbaiki diri, karena setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” kata Hermansyah.

Hermansyah juga mengajak warga binaan untuk menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang lebih terarah. Menurutnya, ilmu dan nasihat yang diterima dalam kegiatan Bimroh akan semakin berarti apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap disiplin, kejujuran, tanggung jawab, serta menghargai orang lain merupakan bagian dari perubahan yang dapat mulai dilakukan selama menjalani masa pembinaan. “Perubahan harus dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga perkataan, menghormati orang lain, menjalankan kewajiban dengan baik, dan berusaha meninggalkan kebiasaan yang tidak baik,” ujarnya.

Sontang Muda Harahap dalam kesempatan tersebut mengingatkan warga binaan agar menjadikan pengalaman selama menjalani masa pembinaan sebagai pembelajaran untuk menata kehidupan ke depan. Ia mengajak peserta untuk menjaga hubungan baik dengan sesama, saling menghargai, serta membangun kebersamaan di lingkungan rutan. Menurutnya, suasana yang saling mendukung akan membantu menciptakan lingkungan pembinaan yang lebih positif dan memberikan kekuatan bagi setiap individu untuk menjalani proses yang ada. “Kita harus terus menjaga kebersamaan, saling menguatkan, dan mengambil hikmah dari setiap proses yang sedang dijalani,” ujar Sontang Muda Harahap.

Sontang Muda Harahap juga menekankan bahwa setiap warga binaan memiliki perjalanan dan pengalaman yang berbeda, sehingga diperlukan sikap saling menghormati dan tidak mudah menghakimi satu sama lain. Ia mengajak peserta untuk memanfaatkan kebersamaan tersebut sebagai kesempatan membangun karakter yang lebih baik. “Ketika kita saling menghargai dan memberikan dukungan, proses pembinaan akan terasa lebih ringan. Mari jadikan tempat ini sebagai ruang untuk belajar, berubah, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang lebih baik,” katanya.

Sementara itu, M. Rusli menekankan bahwa bimbingan rohani tidak seharusnya berhenti pada pemahaman terhadap materi keagamaan, tetapi harus diwujudkan melalui perubahan sikap dan perilaku. Ia mengajak warga binaan untuk mengamalkan nilai-nilai agama melalui perbuatan baik, menjaga lisan, menghormati sesama, serta membangun kebiasaan yang mencerminkan pribadi yang lebih baik. “Pembinaan rohani harus kita buktikan melalui perubahan perilaku, sehingga ilmu dan nasihat yang diterima tidak hanya berhenti pada pemahaman, tetapi benar-benar diamalkan,” ujar M. Rusli.

Menurut M. Rusli, perubahan perilaku merupakan salah satu indikator penting dari keberhasilan pembinaan rohani. Karena itu, warga binaan diharapkan mampu menjadikan setiap materi yang diperoleh sebagai bahan evaluasi dan pedoman dalam menjalani kehidupan. “Apa yang kita dengarkan hari ini harus menjadi bagian dari kehidupan kita. Mulailah dari menjaga hati, menjaga lisan, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memperbanyak perbuatan baik,” tambahnya. Ia berharap kebiasaan positif tersebut dapat terus dipelihara hingga warga binaan kembali menjalani kehidupan di tengah keluarga dan masyarakat.

Kegiatan Bimroh di Rutan Kelas I Labuhan Deli berlangsung dengan tertib dan diikuti oleh warga binaan dengan penuh perhatian. Melalui kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Kementerian Agama Kota Medan terus berupaya menghadirkan pembinaan keagamaan yang memberikan penguatan iman sekaligus membangun kesadaran untuk memperbaiki diri. Bimbingan rohani diharapkan dapat menjadi bekal spiritual dan moral bagi warga binaan selama menjalani proses pembinaan, sekaligus mempersiapkan mereka agar mampu kembali ke tengah masyarakat dengan sikap dan kehidupan yang lebih baik. Dengan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan, nilai-nilai keagamaan diharapkan dapat tumbuh menjadi kekuatan dalam membangun karakter, memperbaiki perilaku, dan menatap masa depan dengan penuh harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *