Medan (Humas) — Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas terus memperkuat pembinaan keagamaan di tengah masyarakat melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh). Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen KUA Medan Amplas dalam menghadirkan pelayanan dan bimbingan keagamaan yang prima serta memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pemahaman dan pengamalan agama masyarakat. Salah satu kegiatan pembinaan tersebut dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., melalui Bimluh di Majelis Taklim (MT) Taqwa, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Tadabbur QS. Al-Baqarah Ayat 35: Sifat yang Membuat Iblis Kekal dalam Neraka.” Melalui tema tersebut, jamaah diajak tidak hanya membaca dan memahami ayat secara tekstual, tetapi juga menggali pesan moral yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tadabbur diarahkan untuk melihat kembali kisah Nabi Adam dan Iblis sebagai pelajaran tentang ketaatan, batasan, godaan, kesalahan, serta bagaimana seharusnya manusia bersikap ketika berhadapan dengan kesalahan dan nasihat.
Kegiatan Bimluh tersebut juga menjadi bagian dari implementasi arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) untuk terus memberikan pelayanan dan bimbingan yang prima serta berdampak di tengah masyarakat. Pembinaan di majelis taklim menjadi salah satu ruang strategis untuk menyampaikan nilai-nilai keagamaan sekaligus mengajak masyarakat melakukan refleksi terhadap perilaku dan kehidupan sehari-hari.
Dalam penyampaiannya, Syarto mengajak jamaah menelaah kandungan QS. Al-Baqarah ayat 35 yang mengisahkan perintah Allah Ta’ala kepada Nabi Adam dan istrinya untuk tinggal di surga dan menikmati berbagai kenikmatan yang tersedia, dengan satu larangan agar tidak mendekati sebuah pohon. Ayat tersebut menjadi bagian dari rangkaian kisah Nabi Adam yang memberikan pelajaran mengenai ketaatan terhadap perintah Allah, adanya batasan dalam kehidupan, serta konsekuensi ketika manusia mengikuti godaan dan melanggar ketentuan yang telah ditetapkan.
Menurut Syarto, kisah Nabi Adam dan Iblis tidak semestinya hanya dipahami sebagai cerita yang terjadi pada masa lalu. Di dalamnya terdapat pelajaran yang tetap relevan bagi manusia sepanjang zaman, terutama dalam menghadapi godaan, menjaga hati, dan menyikapi kesalahan. “Kisah Adam dan Iblis bukan sekadar kisah yang kita dengarkan, tetapi merupakan cermin bagi kehidupan kita. Di dalamnya ada pelajaran tentang ketaatan, godaan, kesalahan, dan bagaimana seseorang menyikapi kesalahan tersebut,” jelasnya.
Dalam pembahasan selanjutnya, jamaah diajak melihat perbedaan sikap antara Nabi Adam dan Iblis setelah terjadi pelanggaran terhadap perintah Allah Ta’ala. Iblis melakukan pembangkangan karena kesombongan dan merasa dirinya lebih baik dibandingkan Adam. Sikap tersebut menunjukkan bahwa kesombongan dapat berkembang menjadi penolakan terhadap kebenaran ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi, lebih benar, atau lebih baik daripada orang lain.
Sementara itu, kisah Nabi Adam memberikan pelajaran yang berbeda. Ketika melakukan kekeliruan, Adam dan istrinya menyadari kesalahan serta memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Dari sini jamaah diajak memahami bahwa manusia tidak luput dari kesalahan, tetapi yang menjadi penting adalah bagaimana seseorang menyikapi kesalahan tersebut. Kesediaan mengakui kesalahan, melakukan introspeksi, dan segera kembali kepada Allah menjadi bagian dari sikap yang perlu terus dibangun.
“Pelajaran dari kisah Adam dan Iblis bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk dijadikan cermin. Ketika manusia melakukan kesalahan, jangan sampai kesalahan itu dipertahankan karena kesombongan atau ego. Segeralah mengakui kesalahan, memohon ampun kepada Allah Ta’ala, dan berusaha memperbaiki diri,” pesan Dr. Syarto.
Ia juga mengingatkan jamaah agar mewaspadai sifat-sifat tercela yang dapat menyeret seseorang kepada sikap seperti Iblis. Kesombongan, merasa diri paling benar, meremehkan orang lain, sulit menerima nasihat, dan enggan mengakui kesalahan merupakan sikap yang perlu dihindari. “Kadang seseorang bukan tidak mengetahui bahwa dirinya salah, tetapi egonya membuat dia sulit mengakui kesalahan. Karena itu, kita harus membiasakan diri untuk rendah hati, mau menerima nasihat, dan berani melakukan evaluasi terhadap diri sendiri,” tuturnya.
Lebih lanjut, jamaah diajak untuk menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai ruang untuk terus melakukan perbaikan. Sikap rendah hati dapat dimulai dengan menghargai orang lain, tidak merasa lebih tinggi karena ilmu maupun kedudukan, serta bersedia menerima kebenaran meskipun datang dari orang lain. Sementara ketika melakukan kesalahan, seseorang perlu segera memperbaikinya dan tidak membiarkan ego menjadi penghalang untuk meminta maaf ataupun bertaubat.
Menurut Syarto, pembinaan melalui majelis taklim perlu diarahkan agar jamaah tidak hanya mendapatkan pengetahuan agama, tetapi juga terdorong untuk melakukan perubahan dalam kehidupan nyata. “Kita berharap setiap materi yang disampaikan dalam Bimluh tidak berhenti sebagai pengetahuan. Ada nilai yang dibawa pulang, direnungkan, kemudian diamalkan. Kalau setelah mengikuti kajian seseorang menjadi lebih rendah hati, lebih mudah menerima nasihat, dan lebih cepat memperbaiki kesalahan, di situlah pembinaan memberikan dampak,” ungkapnya.
Kegiatan Bimluh di MT Taqwa menjadi bagian dari pola pembinaan KUA Kecamatan Medan Amplas yang berupaya menghadirkan materi keagamaan secara informatif, reflektif, dan aplikatif. Tadabbur ayat Al-Qur’an menjadi salah satu pendekatan untuk menghubungkan pesan wahyu dengan persoalan akhlak yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Jamaah diarahkan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk sekaligus sarana mengevaluasi sikap dan perilaku pribadi.
Hal tersebut sejalan dengan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas agar para Penyuluh Agama Islam terus hadir di tengah masyarakat melalui pelayanan dan bimbingan yang berkualitas serta memiliki dampak terhadap peningkatan pemahaman dan pengamalan agama. Melalui pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, majelis taklim diharapkan dapat menjadi ruang penguatan akidah, akhlak, dan ketahanan spiritual masyarakat.
Kisah Nabi Adam dan Iblis pada akhirnya tidak hanya dipahami sebagai bagian dari sejarah umat manusia, tetapi juga menjadi cermin untuk mengenali bahaya kesombongan, pentingnya ketaatan, dan keutamaan kembali kepada Allah Ta’ala ketika melakukan kesalahan. Melalui Bimluh tersebut, jamaah MT Taqwa diharapkan semakin terdorong untuk melakukan introspeksi, menjaga kerendahan hati, serta menjadikan nilai-nilai

