Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., memberikan bimbingan spiritual kepada para peserta rehabilitasi di Yayasan Medan Plus yang beralamat di Jalan Bunga Wijaya Kusuma Nomor 108, Pasar IV, Tanjung Sari, Kota Medan, pada Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Muhasabah Diri” sebagai upaya membangun kesadaran spiritual dan memperkuat motivasi peserta untuk meninggalkan ketergantungan terhadap narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA).
Dalam penyampaiannya, Paidi menjelaskan bahwa muhasabah merupakan proses introspeksi atau evaluasi diri terhadap pikiran, perasaan, niat, dan perbuatan yang telah dilakukan, baik di masa lalu maupun saat ini. Menurutnya, seseorang perlu secara rutin melakukan evaluasi diri agar mampu menyadari kesalahan, memperbaiki kekurangan, serta menyusun langkah-langkah menuju kehidupan yang lebih baik.
“Muhasabah diri adalah proses menilai dan mengevaluasi diri sendiri agar kita mampu memperbaiki kesalahan, memperkuat niat untuk berubah, serta menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah SWT maupun sesama manusia,” ujar Paidi.
Paidi menambahkan bahwa dalam ajaran Islam, muhasabah berasal dari kata hasabah yang berarti menghitung atau menilai. Konsep ini sangat dianjurkan karena dapat menumbuhkan sikap rendah hati, menghindarkan diri dari sifat sombong, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan hubungan sosial dengan sesama. Muhasabah juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran akan tujuan hidup sehingga seseorang tidak mudah terjerumus ke dalam perbuatan yang merugikan diri sendiri.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa muhasabah memiliki keselarasan dengan konsep psikologi modern yang memandang introspeksi sebagai dialog batin untuk mengenali jati diri. Melalui proses tersebut, seseorang akan memahami siapa dirinya, untuk apa ia diciptakan, dan ke mana ia akan kembali.
Kesadaran inilah yang menjadi modal penting bagi para peserta rehabilitasi untuk bangkit dari ketergantungan NAPZA dan membangun kehidupan yang lebih sehat secara fisik, mental, maupun spiritual.
“Jika kita sering bermuhasabah, kita akan mengenali siapa diri kita, untuk apa kita dilahirkan, dan ke mana kita akan kembali. Kesadaran inilah yang menjadi obat bagi penyakit hati, termasuk membantu membangkitkan semangat untuk lepas dari kecanduan narkoba. Muhasabah akan melahirkan sifat-sifat terpuji dan memperbaiki segala kekurangan dalam diri,” tutur Paidi.
Melalui kegiatan bimbingan spiritual ini, diharapkan para peserta rehabilitasi Yayasan Medan Plus memperoleh kekuatan iman dan semangat baru untuk menjalani proses pemulihan. Pendekatan keagamaan yang dipadukan dengan pembinaan mental menjadi salah satu ikhtiar dalam membentuk pribadi yang lebih optimis, bertanggung jawab, serta mampu kembali berperan positif di tengah keluarga dan masyarakat.
Bimbingan spiritual yang disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal menegaskan bahwa muhasabah diri merupakan langkah penting dalam proses perubahan dan pemulihan diri. Dengan senantiasa mengevaluasi diri, memperbaiki kesalahan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT, seseorang akan memiliki kekuatan untuk meninggalkan perilaku buruk, membangun akhlak mulia, dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna.(Paidi).

